Tembang Macapat Dalam Sastra Jawa

19:02


Tembang Macapat adalah jenis kelompok tembang (lagu) yang hingga saat ini masih diuri-uri (dilestarikan) oleh orang Jawa. Tentu, tembang ini juga dilestarikan suku bangsa lain, seperti orang Sunda atau Bali, dengan bahasa masing-masing. Ada sebelas tembang dalam Macapat, yang memiliki karakter berbeda. Ada aturan penulisan khusus dalam membuatnya, yaitu Guru Gatra (jumlah baris tiap bait), Guru Wilangan (jumlah suku kata tiap baris), dan Guru Lagu (vokal akhir tiap baris).
Jika kamu telusuri keseluruhan tembang ini, kamu akan lihat proses kehidupan dunia di dalamnya. Hebat ya, para leluhur yang menciptakan pakem-pakem ini!

Sumber: kesolo.com 



Tembang Macapat in Javanese Literature


Tembang Macapat is a group type of tembang (poetic song/tune) that is still preserved by the Javanese. Of course, the songs are also preserved by other tribes, such as Sundanese or Balinese, with their own languages. There are eleven songs in Macapat, each of which has different characters. There are special rules on writing the poetry, which are Guru Gatra (number of lines of each verse), Guru Wilangan (number of syllables of each line), and Guru Lagu (the ending vocal of each line).
Once you see the themes/characters of the songs thoroughly, you can see in it a whole process of the life of this world. Aren't they amazing, our ancestors who created these standards?

Source: kesolo.com





Sebagai pembuka dalam kelompok Tembang Macapat, Maskumambang menjadi pertanda dimulainya kehidupan manusia di dunia. Tembang ini memberi gambaran tentang janin dalam kandungan ibu ketika sedang hamil. Arti kata Maskumambang sendiri dimaknai sebagai emas yang terapung (emas kumambang), atau sering disebut sebagai maskentir (emas yang terhanyut). Tembang Maskumambang banyak digunakan untuk mengungkapkan perasaan nelangsa, sedih, ketidakberdyaan, maupun harap-harap cemas dalam menyikapi kehidupan.


As the song opener of Tembang Macapat, Maskumambang is the sign of the beginning of human's life in this world. This song gives a description of the fetus in the pregnant mother's womb. The name Maskumambang means the 'floating gold' (derived from word emas kumambang) or also called as maskentir (means 'the drifted gold'). A Maskumambang song is used to express emotions, such as sadness, sorrows, hopelessness, or anxiety in addressing life. 





Awal hadirnya manusia di dunia ini digambarkan dalam tembang Mijil yang berarti seorang anak terlahir dari gua garba Ibu. Kata lain dari mijil dalam bahasa Jawa adalah wijil, wiyos, raras, medal, sulastri yang semuanya berarti 'keluar'. Kelahiran bayi adalah momen pertama ia mengenal dunia. Ia diberi wewenang untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Ia dihadirkan untuk bisa menjadi “manusia” hingga suatu saat bisa kembali kepada-Nya dengan damai.

Sifat tembang Mijil adalah welas asih, pengharapan, laku prihatin dan tentang cinta. Tembang Mijil banyak digunakan sebagai media untuk memberi nasihat, cerita cinta, dan ajaran kepada manusia untuk selalu kuat dan tabah dalam menjalani kehidupan. Gambaran tentang perasaan kesedihan maupun kebahagiaan tercermin dari tembang-tembang macapat Mijil.


The first time a human exists in this world is described in a Mijil song. It means that a child is being born from the mother's womb cave (the vagina). Other words for Mijil in Javanese are wijil, wiyos, raras, medal, and sulastri, which all means 'to exit'.

A baby's birth is the first moment it knows the world. He/she is given an authority to live the life. He/she is present to be 'human', until one day it's time for him/her to return to God's side in peace.

The themes of a Mijil song is about compassion, hope, concern, and love. It is used as a media to give advice, love story and teachings for humans to always be strong and mettlesome in life. Depiction of sadness and happiness are both reflected in Mijil songs.





Dalam bahasa Jawa, Sinom adalah sebutan untuk daun asam yang masih muda. Karena itu dalam bahasa Indonesia orang yang masih muda sering disebut sebagai 'daun muda'. Beberapa kalangan mengartikan Sinom sebagai si enom atau isih enom (artinya masih muda). Pada prinsipnya kata Sinom diartikan sebagai sesuatu yang masih muda.

Tembang Sinom merupakan tembang ketiga dalam Macapat. Tembang ini secara umum memberi gambaran tentang seseorang yang menginjak usia muda, masa yang indah, penuh dengan harapan dan angan-angan, dan perkembangannya yang dinamis hingga menjelang usia akil-balig. Sifat tembang Sinom adalah bersemangat, bijaksana dan sering digunakan untuk piwulang (mengajari) dan wewarah (membimbing).


In Javanese, Sinom is a calling to young tamarind leaf. That's why in Indonesian term, a young person is often called as 'daun muda' (a young leaf). Some people say Sinom comes from the terms si enom or isih enom (both means still young). So basically Sinom is related to something that is young.

Sinom is the third Macapat song. It is generally depicts of someone being young, who is having a great time, who is full of hopes and dreams, and of his/her dynamic progress toward the puberty. The characters of Sinom are vibrant, wise, and often used to teach and guide.





Kinanti diyakini berasal dari kata dikanthi-kanthi (diarahkan, dibimbing, atau didampingi). Dalam masa remaja menginjak usia dewasa biasanya seseorang mengalami proses pencarian jati diri. Di usia remaja ia sudah mengenal baik dan buruk, sudah mengenal sedikit asmara, sudah mengenal banyak hal lain, tetapi belum bisa menentukan pilihan secara bijaksana karena masih mudah terombang-ambing dengan berbagai pilihan.

Tembang Macapat Kinanti memberi gambaran seorang remaja menuju usia dewasa. Oleh karena itu watak tembang Macapat Kinanti adalah senang, kasmaran dan asih. Tembang-tembang Kinanti banyak digunakan sebagai sarana memberi nasihat (mituturi), ungkapan cinta, dan berisi ajaran (piwulang).


Kinanti is believed to derived from word dikanthi-kanthi (which means being directed, guided, or accompanied). In the transition from adolescence to adulthood, people experience a process of identity search. In adolescence, a person already knows of good and bad, knows a little about romance, knows many other things, but is not wise enough to decide on something, because he/she is still easily swayed by the many options.

A Kinanti song gives depiction of a teenager going on to the mature age. That is why the characters of Kinanti song are happiness, being in love, and compassion. Kinanti songs are used as a medium to give advice, express love, and teach.





Macapat Asmaradana merupakan tembang yang banyak menggambarkan gejolak asmara yang dialami manusia. Sesuai dengan arti kata, Asmaradana memiliki makna asmara dan dahana, yaitu api asmara. Begitupun kehidupan, manusia digerakkan oleh asmara, cinta, welas asih. Banyak yang percaya, dengan kekuatan cinta apapun bisa dilakukan. Bukan hanya cinta kepada sesama manusia, namun juga cinta terhadap Tuhan dan cinta pada alam semesta.

Macapat Asmaradana adalah lagu kasmaran yang sering digunakan untuk mengungkapkan perasaan cinta, baik bernada sedih (karena patah hati dan kekecewaan akan penolakan cinta), atau berbahagia dengan pasangan, juga pengharapan untuk hubungan mereka.


Macapat Asmarandana is the song that describes the flaming romance in human's life. According to its name origins, asmara and dahana means the flame of romance. As it is in life, human is moved by romance, love and compassion. Many believe that anything can be done in the name of love. Not only the love to others, but also to God and to the nature.

Asmarandana is a romantic song that is used to express love, either with sad tunes (due to a heartbreak and disappointments of being rejected), or a happy one as a couple, along with hopes for their relationship.





Tembang Macapat Gambuh berarti kecocokan antar dua insan manusia. Tembang ini berisi berbagai ajaran kepada generasi muda, khususnya mengenai bagaimana menjalin hubungan antara manusia satu dengan yang lainnya. Beberapa kalangan ada yang memaknai kata Gambuh sebagai sebuah kecocokan, sepaham dan sikap bijaksana. Sikap bijaksana berarti dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya, sesuai porsinya, dan mampu bersikap adil.

Nasihat-nasihat mengenai pentingnya membangun rasa persaudaraan, toleransi dan kebersamaan sebagai makhluk sosial banyak tergambar dari tembang-tembang macapat Gambuh. Salah satunya terdapat dalam Serat Wulangreh pupuh III karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta.


The Macapat Gambuh means a match between two human beings. The song consists of teachings to the young generation, especially about building a relationship with one another. Some people interpret Gambuh word as a match, consentient, and wise attitude. The latter means an ability to put things in its place, with its portion, and to be fair.

The advice of the importance to build sense of brotherhood, tolerance and togetherness as social creature are reflected in Gambuh songs. One of them is the Serat Wulangreh pupuh III by the King of Surakarta, Sri Susuhunan Pakubuwana IV.





Tembang Macapat Dandanggula memiliki makna harapan yang indah. Kata Dandanggula sendiri dipercaya berasal dari kata gegadhangan, yang berarti cita-cita, angan-angan atau harapan, dan kata gula yang berarti manis, indah ataupun bahagia. Selain itu, ada kalangan yang menafsirkan Dandanggula berasal dari kata dhandang yang berarti burung gagak yang melambangkan duka, dan dari kata gula yang terasa manis sebagai lambang suka.

Kebahagiaan dapat dicapai setelah sebuah pasangan dapat melampaui proses suka-duka dalam berumah tangga sehingga akan tercapai cita-cita bersama, yaitu cukup sandang, papan dan pangan. Seseorang yang sedang menemukan kebahagiaan dapat diibaratkan lagu Dandanggula.

Tembang ini memiliki watak yang luwes, gembira dan indah, sangat cocok digunakan sebagai tembang pembuka yang menjabarkan berbagai ajaran kebaikan, ungkapan rasa cinta dan kebahagiaan.


The Macapat Dandanggula means 'a beautiful hope'. The word Dandanggula is believed to derived from words gegadhangan (which means dreams, imagination or hope) and gula (which means sweet, beatiful or happy). Besides that, some party believe that Dandanggula came from words dhandang, which means the crow (that represents sorrow), and gula (that tastes sweet as a symbol of happiness).

Happiness can only be achieved after a couple gets through a process of joy and sorrow in their relationship. This would allow them to reach together their dreams, which is to be fulfilled with food, clothe, and home. Someone who is finding his/her happiness can be parabled to a Dandanggula song.

This song has characters of flexibility, joyful and beauty. It is suitable to be an opening song that depicts a teaching of goodnes, an expression of love, and happiness.





Tembang macapat Durma merupakan tembang yang menggambarkan kondisi ketika manusia telah menikmati segala kenikmatan dari Tuhan. Dalam banyak kasus, manusia akan mengingat Pencipta-nya saat ia dalam kondisi kesulitan dan lupa dalam kondisi kecukupan.

Ketimbang bersyukur atas rahmat karunia Tuhan, pada kenyataannya manusia justru seringkali bersifat sombong, angkuh, serakah, suka mengumbar hawa nafsu, mudah emosi dan berbuat semena-mena terhadap sesamanya. Sifat-sifat buruk inilah yang mungkin digambarkan dalam tembang macapat Durma. Durma bagi beberapa kalangan diartikan sebagai munduring tata krama (mundurnya etika).

Tembang macapat Durma biasanya digunakan untuk menggambarkan sifat-sifat amarah, pemberontakan, dan juga semangat perang. Ia menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk, egois dan ingin menang sendiri.


The song Durma is a song that describes a condition when a person has enjoyed all the blessings from God. In many cases, people tend to remember their Creator only in difficult times and forget Him when they are sufficient.

Instead of being thankful for God's gift of grace, in reality human tends to be cocky, arrogant, greedy, indulging in desires, losing their temper and acting arbitraritily to one another. These bad characters are described in Durma songs. Durma, to some people, represents as munduring tata krama (the pullback of ethics).

Macapat Durma songs usually depict the rage, rebel, and a spirit of war. It describes the condition of humans doing bad things and being selfish.





Tembang macapat Pangkur bagi orang Jawa sering dimaknai sebagai proses mengurangi hawa nafsu dan mungkur dari urusan duniawi. Dalam tahap ini, manusia sudah memasuki usia senja dimana sesorang akan “berkaca” tentang dirinya, tentang masa lalunya, tentang pribadi dan Tuhan, dan lain sebagainya.

Pangkur yang juga berarti mungkur (mundur/mengundurkan diri), memberi gambaran bahwa manusia mempunyai fase dimana ia akan mulai mundur dari kehidupan ragawi dan menuju kehidupan jiwa atau spiritualnya.

Tembang macapat Pangkur bernuansa pitutur (nasihat), pertemanan, dan rasa sayang. Dalam tembang ini juga berbicara tentang kegembiraan dan pengendalian hawa nafsu. Meski demikian tembang macapat Pangkur juga sering digunakan dalam tembang-tembang asmara.


The Macapat Pangkur song for Javanese means as a process of reducing desires and retreating from worldly affairs. In this phase, human is entering an old age whereas he/she will reflect on oneself, about his/her past, about personality, about God, and other things.

Pangkur also means mungkur (to retreat/resign), as a depiction that human has a phase where he/she will be leaving the physical life and stepping on the spiritual life.

Pangkur songs usually consist of a nuance of pitutur (advice), friendship, and compassion. In this song there are also happiness and a control of desires. This song is also used as a song of romance.





Tembang macapat Megatruh merupakan tembang yang menggambarkan tentang kondisi manusia di saat sakaratul maut. Kata megatruh sendiri dipercaya berasal dari kata megat/pegat (berpisah) dan ruh, yang artinya berpisahnya antara jiwa dan raga. Kematian menjadi hal yang paling ditekankan dalam tembang Megatruh, proses dimana setiap makhluk hidup di dunia pasti akan mengalaminya, proses yang menegangkan sekaligus menyakitkan bagi banyak orang, proses terbukanya Gerbang menuju kehidupan yang tak pernah ada akhirnya.

Sifat tembang macapat Megatruh diantaranya sedih, prihatin, getun (menyesal). Tembang macapat ini sangat cocok untuk cerita sedih.


The Macapat Megatruh is a song that describes a condition of a dying person. The word mègatruh is believed to came from words mègat/pègat (to separate) and ruh (soul)--it means the separation of soul from its body. Death becomes the main theme in Megatruh; a process whereas all creatures will get through; a tense and painful process to many; a process of the opening of the Gateway to the endless life ahead.

The characters of Macapat Megatruh are sadness, concern and regret. The song is suitable for a sad story.







Tembang macapat Pucung, atau sering ditulis dengan Pocung, berasal dari kata cung, yang kemudian membentuk kata pucung, kuncung, kacung, yang artinya lucu. Ada yang berpendapat tembang macapat Pucung diambil dari nama pohon atau buah yang bijinya dikenal dengan nama kluwak/pucung. Selain itu ada juga yang berpendapat kata Pucung biasa dihubungkan dengan pocong/pengafanan jenazah.

Bagi orang Jawa, badan wadag yang telah ditinggalkan oleh ruhnya biasanya akan dirawat dan disucikan sebelum ia dikembalikan dari asalnya yaitu rahim ibu pertiwi (tanah). Jasad akan dimandikan dan dibungkus dengan kain mori putih sebagai lambang kesucian.

Tembang macapat Pucung merupakan tembang yang digunakan sebagai pengingat akan datangnya kematian. Tidak ada satupun manusia yang tau apa yang akan terjadi setelah kematiannya. semua menjadi teka-teki, tetapi setiap orang berhak untuk menebak, Mungkin karena itulah kenapa tembang macapat Pucung lebih banyak berisi teka-teki yang terkadang bisa bersifat jenaka. Dari tembang Pucung manusia dituntut untuk berpikir, mengkaji, dan mencari jawaban atas teka-teki ini.

Watak tembang macapat Pucung adalah sembrana parikena, biasanya dipakai untuk menceritakan hal-hal yang ringan, jenaka atau teka-teki. Meski ringan dan jenaka, namun dalam tembang ini membawa pesan yang berisi nasihat-nasihat untuk membangun hubungan harmonis antara manusia, alam, lingkungan dan Tuhan.


The song Pucung, or often written as Pocung, derived from word cung, which then formed as pucung, kuncung, or kacung, which all means funny. Some people say Pucung was taken from the name of a tree/fruit known as kluwak or pucung. But some people say it is related to pocong, or the shrouding of a dead body.

To Javanese, the body that is left by its soul will be taken care of and purified before it is to be returned to the origin, which is Ibu Pertiwi (the Earth). The body would be washed and shrouded by a white mori cloth as a symbol of purity.

A Pucung song is used to remind people of the coming of the death. Nobody knows what will happen after death, everything is like a puzzle, but everyone has a right to make guess of it. Perhaps that is why Pucung consists more of riddles and tends to be funny. The song forces people to think, analyze and find the answer to question of life.

The character of Pucung song is sembrana parikena, which is used to tell light stories, witty yet puzzling. But behind it lies a message that consists of advice to build a harmonious relationship between fellow humans, the nature, and God.



Rahayu.

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah memberi komentar. Mohon kesabarannya menunggu saya baca dan balas komennya ya. Rahayu.

Popular Posts

Follow Me

Subscribe