Hari ini saya menjadi pembicara acara talk show lain, yaitu Ngobrol Proses Kreatif Penulis PBK (Penerbit Buku Kompas). Seperti biasa, moderator yang juga dua penulis buku lain yaitu mba Amanda dan mas Bobby, menggiring acara dengan sangat apik dan menarik. Acara selama 2 jam berjalan mulus dan saya sendiri terkejut memperhatikan bagaimana acara ini berlangsung. Banyak pertanyaan bagus yang memaksa saya membicarakan hal-hal yang biasanya saya simpan sendiri.
Saya sangat senang dengan antusiasme teman-teman sekalian yang telah hadir berpartisipasi maupun menonton tayangan ulang acara tadi (kalau tidak salah 85 peserta di webinar Zoom dan 60 peserta di YouTube Live--menjadikan semuanya 145 orang menonton langsung) dan merasa terharu dengan apresiasi yang disampaikan pada saya usai acara, terutama dari Pak Francis Wahono, Pak Chappy Hakim, Pak Ninok Leksono, dan Pak Rudi Pekerti. Para penulis (senior) hebat ini juga bergabung di Komunitas Penulis PBK.
Untuk kalian yang ketinggalan acara tadi, kalian bisa menonton rekamannya di YouTube Buku Kompas. Dan untuk kalian yang jawabannya belum dibahas di acara, saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara tulisan di sini. Untuk mendengarkan versi podcast-nya, ada di sini.
Saya merasa sangat berterima kasih atas antusiasme dan dukungan untuk saya dan buku-buku saya selama ini. Jika kalian mau membeli buku Jagat Nuswantara, bisa klik di sini. Edisi khusus dengan box baru akan siap per tanggal 28 Mei 2021. Sekali lagi, terima kasih.
Rahayu, Tabik.
_/|\_
7 Mei 2020 mendatang, novel terbaru saya akan terbit. Kali ini ber-genre drama percintaan seorang pecinta foto dan seorang pecinta kopi. Begini sinopsisnya:
Sebagai anak yatim piatu yang tumbuh di Manado, Ray tidak pernah menyangka hidupnya akan penuh dengan petualangan setelah pindah ke Jakarta: bekerja di sebuah kantor ternama, menjadi fotografer, dan berkenalan dengan Maeva si pemilik kedai kopi yang cantik. Belum lagi persahabatannya dengan Corrine, barista kedai kopi tomboy yang rupanya menaruh perasaan pada Ray. Tetapi segalanya berubah tatkala Gio, sahabatnya di panti asuhan dulu, muncul kembali di hidup Ray setelah tujuh tahun tak ada kabar.
Apa yang terjadi dengan persahabatan Ray dan Gio? Dan bagaimana akhir kisah cinta Ray?
Apakah Maeva, atau Corrine yang akan menjadi labuhan hatinya?
Buku ini ada di Goodreads.
Saat ini kami masih membuka PO s/d tanggal 2 Mei 2020.
Harga Rp
Rahayu,
_/|\_
Victoria
![]() |
| sepertinya ini pertama kalinya nama saya dicetak begini dalam jamuan gala dinner |
Acara ini adalah peluncuran buku Mas Bobby yang kedua saya hadiri. Yang pertama di Bali, kali pertama kami kenalan, yaitu buku biografi Ajik Cok, pemilik Krisna Oleh-Oleh Bali. Sebetulnya tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang acara ini, kecuali bahwa pemberi kata sambutan terdiri dari Pak Sunarso sebagai Dirut BRI dan Pak Haryo Damardono sebagai perwakilan pimpinan Penerbit Buku Kompas (PBK), dan ada Bapak Ignasius Jonan yang menjadi pembicara saat diskusi.
![]() |
| Pak Sunarso |
![]() |
| Peresmian penyerahan mock-up buku dari penerbit ke penulis & tokoh biografi |
Pak Mustafa Abubakar (kerap dipanggil Pak Mus) memulai kariernya di Bank BRI. Setelah itu beliau pernah juga menjabat sebagai kepala pimpinan BULOG, Bupati Aceh, menteri BUMN, dan kembali sebagai komisaris BRI. Hampir seluruh hidupnya ia berurusan dengan instrumen negara sebagai baktinya pada bangsa.
![]() |
| tarian Saman dari Aceh, tempat lahir Pak Mus |
![]() |
| bincang buku, dengan Pak Ignasius Jonan |
![]() |
| rekan semeja saya: tim percetakan, penulis, dan penerbit |
![]() |
| foto sebelum pulang |
![]() |
| terlihat cukup bonafid kan, untuk pengalaman pertama diundang acara dengan pejabat-pejabat |
Saya merasa sangat terhormat diberi kesempatan mengedit teks untuk buku fotografi seri Little Rendezvous karya Flora Rikin ini. Fotografer perempuan asal Bandung idola saya ini punya mata dan keahlian fotografi yang sangat mumpuni, terutama untuk fotografi landscape. Terbit Januari 2018, buku 'Moroccan Journey' ini menampilkan 98 foto perjalanan beliau di Maroko; mulai dari Marrakesh, Fez, Chefchaouen, Pegunungan Atlas, Gurun Zagora dan Sahara, Merzouga, sampai Hassan II di Casablanca -- dengan kekhasan daerah masing-masing yang sangat berbeda. Kumpulan fotografi indah ini memberi pembaca gambaran keadaan kehidupan sehari-hari di negara kecil nan eksotis di Afrika Utara.
Hubungi Bu Flora Rikin jika berminat membeli buku maupun (salah satu) fotonya.
ISBN 0-001-251217-01
![]() |
| the beautiful exclusive package |
![]() |
| the book came with 2018 calendar for me (; |
I am truly honored to have the chance editing the text for this photography book series Little Rendezvous by Flora Rikin. This female photographer from Bandung has excellent eyes and photography skills, especially for landscape photography; and I idolize her so much. Published in January 2018, this 'Moroccan Journey' book showcases 98 photography of her journey in Morocco; starting from Marrakesh, Fez, Chefchaouen, The Atlas Mountains, Sands of Zagora and Sahara Desert, Merzouga, until the Hassan II in Casablanca -- each with its own significant uniqueness. The beautiful photography compilation gives its readers the image of daily lives in this exotic small country in North Africa.
Contact Mrs. Flora Rikin if you are interested to purchase the book or one of the photos.
ISBN 0-001-251217-01
Rahayu _/|\_
![]() |
| saya dan mas Herwiratno - Maret 2017 |
Saya pernah merekomendasikan buku Mati Tak Berarti Pergi dan Hidup Tidak Lenyap Hanya Berubah karya Herwiratno di blog saya (klik di sini). Dua jilid buku ini berisi koleksi kisah nyata pengalaman penulis ketika bersinggungan dengan roh dan makhluk halus yang perlu dibantu.
Lewat kumpulan cerita ini, pembaca bisa belajar lebih banyak tentang dunia tak kasat mata, baik dunia 'gaib' (terutama supaya tahu harus bagaimana kalau 'diganggu setan') maupun alam setelah kehidupan. Sang penulis, Mas Herwiratno, rupanya punya tugas menjembatani roh-roh yang terjebak di Alam Antara supaya bisa meneruskan perjalanan jiwa mereka.
Menurut saya, dua buku ini membuat kita 'belajar hidup dari orang mati.' Lewat dua buku ini kita bisa lebih memahami dunia dimensi lain yang hidup berdampingan dengan kita, mirip konsep 'parallel universe' di film The Flash, Arrow, Dr. Strange, Stranger Things, Tomorrowland, atau buku trilogi The Golden Compass karya Philip Pullman, seri The Chronicles of Narnia karya CS Lewis,--atau buku saya: trilogi Nuswantara.
Saya jadi paham, ternyata Bumi ini begitu kompleksnya karena tidak saja menjadi rumah bagi kita makhluk alam 3D, tetapi juga banyak makhluk lain di dimensi keempat, kelima, dan seterusnya. Seperti di buku trilogi Bartimaeus karya Jonathan Stroud dengan alam djinn-nya.
Saya pun jadi sadar: bahwa pengetahuan kita manusia begitu terbatasnya pada apa yang kita pernah lihat, sehingga kadang menolak percaya adanya kenyataan di luar nalar. Padahal apa yang ada dan terjadi tidak tergantung pada apa yang kita tahu dan percaya saja. Ada banyak penghuni Bumi lainnya yang berbagi tempat tinggal dengan kita, dan mengalami hal berbeda.
Kalau mengingat ada sekitar tujuh milyar orang di dunia dan ternyata masih banyak makhluk lain yang tak terhitung--wah, betapa kecilnya diri kita ini untuk boleh sombong dengan pengalaman dan pengetahuan terbatas ini ya. (Iya, maksud saya sekalian menyinggung 'kaum sumbu pendek' yang reaktif di luar sana.)
Buku Ketiga
Kini, buku ketiga Mas Herwi telah terbit. Judulnya Siklus Kenikmatan Misi Jiwa. Seperti judulnya, buku ini memfokuskan pada penyadaran dan persiapan para pembaca untuk melaksanakan misi jiwa masing-masing. Karena manusia diciptakan unik dan misi jiwa kita sifatnya individual tanpa aturan baku, cara paling tepat untuk menyampaikan maksud penulis pada pembaca adalah tetap dengan menceritakan ulang pengalaman-pengalaman penulis menghadapi kasus tentang misi jiwa.
Memangnya apa sih misi jiwa itu?
Misi jiwa adalah tugas yang dipercayakan Tuhan pada kita dalam hidup ini, yang harus dilaksanakan sebagai tujuan hidup masing-masing. Misi jiwa ini berbeda untuk setiap orang. Ada yang misi jiwanya 'sesimpel' mengubah dan memperbaiki hidup orang tuanya (para bayi dan anak yang meninggal, misalnya, atau anak-anak yang terlahir cacat); ada yang untuk mengubah dan membantu hidup orang lain secara spesifik (mungkin aja para pengemis atau orang gila yang sering kamu lewati punya misi untuk mengetuk pintu hatimu), ada yang untuk mengubah dan menyentuh hidup orang banyak (orang-orang dengan misi jiwa berskala besar ini biasanya orang-orang pilihan dengan jalan hidup berliku dan beban berat karena tanggung jawabnya juga luas.)
Saya sudah melakukan pekerjaan sesuai dengan passion saya, apa itu termasuk misi jiwa?
Misi jiwa lebih dari sekedar passion. Tetapi kalau kamu sudah melakukan pekerjaan yang sesuai dengan passion, setidaknya kamu sudah selangkah lebih dekat untuk mencapai pelaksanaan misi jiwa. Bandingkan dengan orang-orang yang hidupnya 'hanya' bekerja untuk uang. Setidaknya kalau kita sudah bekerja sesuai dengan passion, kita sudah terbebas dari 'aturan lingkungan sekitar' tentang apa yang 'sebaiknya' dan apa yang 'mesti' dilakukan. Kurang lebih seperti itu yang saya pahami. Tapi tidak selalu seperti itu sih. Bisa juga kita 'terjebak' dalam situasi pekerjaan yang kita tidak sukai karena ada suatu tujuan Tuhan untuk misi jiwa kita di sana.
Ada orang yang 'terpanggil' untuk hidup membiara, bekerja sebagai tokoh politik, mengajar anak-anak suku minoritas di hutan, pindah ke desa untuk membangun infrastruktur di kampung halaman, dan lain-lain. Kita mengenali ini sebagai passion, tetapi inilah misi jiwa. Ini lebih dari passion--lebih seperti tindakan lanjut dari passion. Misi jiwa adalah tugas hidup--hal-hal yang kita lakukan untuk orang banyak tanpa perlu disuruh, yang berasal dari inti jiwa kita, yang (biasanya) menyangkut, menyentuh, dan berguna untuk hidup banyak orang.
Jadi ingat buku-buku karangan bule yang pernah saya baca sebelumnya: The Five People You Meet In Heaven dan Tuesdays With Morrie karya Mitch Albom, atau Embraced By The Light karya Betty J. Eadie. Ketiga buku ini isinya sangat berbeda, tetapi saling mengisi untuk pengetahuan kita tentang misteri kehidupan. Mungkin pertemuan saya dengan buku-buku ini sejak tahun 2000-an akhirnya membawa saya pada persiapan pemenuhan misi jiwa ini.
Lalu, lalu?
Saya tergerak saat membaca beberapa kisah di buku Siklus Kenikmatan Misi Jiwa, terutama di bagian 'Kerja VS Karya'. Saya sadar, saya telah memilih jalan untuk berkarya sejak kepindahan saya ke Bali tahun 2012, dan karenanya saya telah digembleng begitu hebatnya dengan berbagai masalah hidup. Tak jarang saya putus asa di tengah perjalanan, walaupun saya selalu teringat kata-kata Paulo Coelho: 'Saat hidup menyerangmu dengan hebat, jangan mengeluh. Menangislah keras-keras, menyumpah serapah juga boleh, tetapi jangan protes. Kamu bukan korban.'
Wejangan-wejangan bijak dari Paulo Coelho adalah kalimat pegangan dan penguat jiwa saya. Saya bisa bertahan sejauh ini, salah satunya dengan mem-brainwash otak saya dengan quote dari beliau dan banyak penulis lain. Tetapi saya menemukan buku baru, berbahasa Indonesia, yang semakin mengukuhkan perjalanan spiritual saya: buku Mas Herwi ini.
Buku ini juga mengubah cara pandang kita pada kehidupan, dari sudut perikemanusiaan menjadi sudut perikeTuhanan (atau yang kawan saya bilang, dari perspektif Malaikat--atau yang para motivator bilang sebagai 'out of the box'.) Menurut saya, dengan mengubah cara pandang 'sebagai korban' menjadi 'subjek pelaksana misi Tuhan', kita bisa membuang lebih dari setengah masalah hidup kita dan memfokuskan energi dan perhatian pada hal-hal penting, yaitu pada tujuan dan prosesnya.
Lewat gaya bahasa sehari-hari yang ringan dan mudah dicerna (diselipi sumpah serapah khas Mas Herwi) juga ilustrasi menarik yang tersisip, kita diajak untuk merefleksi diri dan bertanya: sudah siapkah saya untuk menjalani misi jiwa?
Tapi apa misi jiwa saya?
Bagaimana cara saya mengenalinya?
Saya merasa tidak spesial, apa saya juga punya misi jiwa?
Nah untuk pertanyaan-pertanyaan di atas, cuma kamu sendiri yang bisa menjawabnya, karena setiap manusia punya misinya sendiri-sendiri. Untuk memahami dan mengenali serba-serbi misi jiwa yang memusingkan ini, saya sarankan baca buku 'Siklus Kenikmatan Misi Jiwa' karangan Mas Herwiratno, karena pemahamannya akan berbeda jika membaca sendiri dengan jika saya kasih rangkumannya di sini.
Bisa pesan langsung ke:
0878 7791 6900
0812 9173 414
herwiratno@yahoo.com
Harganya Rp110.000,- termasuk ongkir Jakarta.
Untuk dua buku sebelumnya, harganya total Rp200.000,- termasuk ongkir Jakarta.
Ada satu aturan lucu dari penulis nih:
SYARAT PEMBAYARAN nanti saja setelah:
- Bukunya diterima
- Tersedia dananya, dan
- Sempat waktunya
Kelamaan ya, nunggu sekuel 'Gerbang Nuswantara'? Sementara naskah lagi digodok di penerbit, ada beberapa bacaan rekomendasi berbahasa Indonesia yang mirip-mirip konsep 'Gerbang Nuswantara' dan bisa dijadikan referensi bacaanmu. Cek ya:
1. 'Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu' oleh Joseph Rio Jovian Haminoto
Penerbit: M&C Gramedia (sebelumnya Gramata)
Genre: sejarah, fiksi
Buku ini mengisahkan seorang pedagang Italia yang berkunjung ke Indonesia di tahun 1300-an dan akhirnya berkenalan dengan sosok Sang Maha Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit. Takdir dan ikatan lain membawa Rafa di tahun 2012 menyusuri jejak sang pedagang. Poin menarik bagi saya adalah melihat 'dari dekat' sosok seorang maha patih dan kondisi Indonesia di abad ke-14 dari sisi global. Cek juga ini. Patut dibaca oleh seluruh warga Indonesia!
2. 'Sukuh' oleh Rizki Ridyasmara
Penerbit: Grasindo (sebelumnya Coopex70)
Genre: arkeologi, thriller
Penulis buku ini mengambil referensi data dari narasumber yang sama dengan saya. Bedanya, buku 'Sukuh' lebih mengadaptasi gaya Dan Brown dengan genre thriller yang membuka keberadaan persaudaraan kuno tersembunyi yang terusik karena penelitian seorang arkeolog bernama Doktor John Grant. Banyak data sejarah yang ditampilkan di buku ini yang bisa dijadikan bacaan referensi sebelum berkunjung ke Candi Sukuh di Jawa Tengah, pastinya!
3. Seri 'Supernova' oleh Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Genre: fantasi
Seri yang terdiri dari buku 'Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh', 'Akar', 'Petir', 'Partikel', 'Gelombang', dan 'Intelegensi Embun Pagi' ini memang panjang untuk diikuti, tapi menarik dan (menurut saya ) mungkin menyadarkan kita akan 'tugas khusus' kita di dunia. Kadang, kita tidak sadar kalau kita pun punya potensi yang bisa membantu kelangsungan hidup orang banyak--walau bisa diwujudkan dalam berbagai bidang. Buku ini membuka wawasan tentang sisi spiritual manusia dan cara kerja semesta yang dikemas dalam bahasa dan kegiatan kehidupan sehari-hari.
4. 'Cerita-Cerita Wayang Paling Unik' oleh Ki Wisnoe Poerwo Tjarito & Sri Wintala Achmad
Penerbit: Syura Media Utama
Genre: pedalangan, dongeng
Buku ini adalah cerita tambahan untuk penggemar perwayangan. Ada 20 kisah yang kurang populer untuk publik tetapi cukup penting untuk pelajaran hidup bagi orang-orang Jawa. Kita bisa belajar banyak tentang bagaimana keadaan para leluhur di masa lalu, terutama hubungan antar manusia di zaman itu, walau disampaikan dalam gaya perwayangan. Sebaiknya baca kisah-kisah Ramayana dan Mahabarata/Bharatayudha dulu supaya lebih paham kisah-kisah di buku ini ya.
5. 'Nibiru dan Kesatria Atlantis' oleh Tasaro GK
Penerbit: Metamind
Genre: fantasi
Seperti 'Gerbang Nuswantara', serial Nibiru disiapkan untuk menjadi trilogi. Bertolak dari sejarah yang hilang, serial ini mengisahkan seorang pemuda bernama Dhaca yang ditakdirkan melawan Kesatria Atlantis yang mengganggu desanya. Buku ini seperti paduan serial Harry Potter dan Avatar: The Last Airbender, dimana sekolah Dhaca berfokus mengasah kemampuan unik masing-masing muridnya. Kalau buku ini bisa diangkat ke film, saya yakin tak akan kalah dengan kisah fantasi lain yang sudah melegenda!
Rahayu,
Victoria
Bagi kalian yang belum dan ingin membeli buku Gerbang Nuswantara, mungkin sudah sulit ditemui di toko buku Gramedia maupun Periplus. Tapi kalian masih bisa memesannya via email ke buku@kompas.com atau telepon ke +62 21 5367 0882. Atau pesan online di kompas.id/gerai.
Book Order
If you haven't but want to buy Gateway To Nuswantara book, maybe it's difficult to find them in the Gramedia or Periplus bookstores. However, you can order them via email to buku@kompas.com or by phone to +62 21 5367 0882. Or order online via kompas.id/gerai.
Rahayu,
Victoria
(English Version)
- Follow FB Page Victoria Tunggono
- Follow Twitter @ratuvictoria
- Twitpic selfie kamu dengan sebuah benda etnik (kain, patung, alat musik, apapun!) dari pelosok Indonesia & buku Gerbang Nuswantara sebelum 30 Juni ‘15.
SML- Follow FB Page Victoria Tunggono
- Follow Twitter @ratuvictoria
- Twitpic your selfie with an ethnic object (textile, sculpture, musical instrument, anything!) from all over Indonesia & Gerbang Nuswantara book before June 30th, 2015.
SML
SML





















