Ulasan Buku Dan Pelajaran Misi Jiwa

13:48

saya dan mas Herwiratno - Maret 2017

Saya pernah merekomendasikan buku Mati Tak Berarti Pergi dan Hidup Tidak Lenyap Hanya Berubah karya Herwiratno di blog saya (klik di sini). Dua jilid buku ini berisi koleksi kisah nyata pengalaman penulis ketika bersinggungan dengan roh dan makhluk halus yang perlu dibantu.

Lewat kumpulan cerita ini, pembaca bisa belajar lebih banyak tentang dunia tak kasat mata, baik dunia 'gaib' (terutama supaya tahu harus bagaimana kalau 'diganggu setan') maupun alam setelah kehidupan. Sang penulis, Mas Herwiratno, rupanya punya tugas menjembatani roh-roh yang terjebak di Alam Antara supaya bisa meneruskan perjalanan jiwa mereka.

Menurut saya, dua buku ini membuat kita 'belajar hidup dari orang mati.' Lewat dua buku ini kita bisa lebih memahami dunia dimensi lain yang hidup berdampingan dengan kita, mirip konsep 'parallel universe' di film The Flash, Arrow, Dr. Strange, Stranger Things, Tomorrowland, atau buku trilogi The Golden Compass karya Philip Pullman, seri The Chronicles of Narnia karya CS Lewis,--atau buku saya: trilogi Nuswantara.

Saya jadi paham, ternyata Bumi ini begitu kompleksnya karena tidak saja menjadi rumah bagi kita makhluk alam 3D, tetapi juga banyak makhluk lain di dimensi keempat, kelima, dan seterusnya. Seperti di buku trilogi Bartimaeus karya Jonathan Stroud dengan alam djinn-nya.

Saya pun jadi sadar: bahwa pengetahuan kita manusia begitu terbatasnya pada apa yang kita pernah lihat, sehingga kadang menolak percaya adanya kenyataan di luar nalar. Padahal apa yang ada dan terjadi tidak tergantung pada apa yang kita tahu dan percaya saja. Ada banyak penghuni Bumi lainnya yang berbagi tempat tinggal dengan kita, dan mengalami hal berbeda.

Kalau mengingat ada sekitar tujuh milyar orang di dunia dan ternyata masih banyak makhluk lain yang tak terhitung--wah, betapa kecilnya diri kita ini untuk boleh sombong dengan pengalaman dan pengetahuan terbatas ini ya. (Iya, maksud saya sekalian menyinggung 'kaum sumbu pendek' yang reaktif di luar sana.)


Buku Ketiga



Kini, buku ketiga Mas Herwi telah terbit. Judulnya Siklus Kenikmatan Misi Jiwa. Seperti judulnya, buku ini memfokuskan pada penyadaran dan persiapan para pembaca untuk melaksanakan misi jiwa masing-masing. Karena manusia diciptakan unik dan misi jiwa kita sifatnya individual tanpa aturan baku, cara paling tepat untuk menyampaikan maksud penulis pada pembaca adalah tetap dengan menceritakan ulang pengalaman-pengalaman penulis menghadapi kasus tentang misi jiwa.


Memangnya apa sih misi jiwa itu?

Misi jiwa adalah tugas yang dipercayakan Tuhan pada kita dalam hidup ini, yang harus dilaksanakan sebagai tujuan hidup masing-masing. Misi jiwa ini berbeda untuk setiap orang. Ada yang misi jiwanya 'sesimpel' mengubah dan memperbaiki hidup orang tuanya (para bayi dan anak yang meninggal, misalnya, atau anak-anak yang terlahir cacat); ada yang untuk mengubah dan membantu hidup orang lain secara spesifik (mungkin aja para pengemis atau orang gila yang sering kamu lewati punya misi untuk mengetuk pintu hatimu), ada yang untuk mengubah dan menyentuh hidup orang banyak (orang-orang dengan misi jiwa berskala besar ini biasanya orang-orang pilihan dengan jalan hidup berliku dan beban berat karena tanggung jawabnya juga luas.)


Saya sudah melakukan pekerjaan sesuai dengan passion saya, apa itu termasuk misi jiwa?

Misi jiwa lebih dari sekedar passion. Tetapi kalau kamu sudah melakukan pekerjaan yang sesuai dengan passion, setidaknya kamu sudah selangkah lebih dekat untuk mencapai pelaksanaan misi jiwa. Bandingkan dengan orang-orang yang hidupnya 'hanya' bekerja untuk uang. Setidaknya kalau kita sudah bekerja sesuai dengan passion, kita sudah terbebas dari 'aturan lingkungan sekitar' tentang apa yang 'sebaiknya' dan apa yang 'mesti' dilakukan. Kurang lebih seperti itu yang saya pahami. Tapi tidak selalu seperti itu sih. Bisa juga kita 'terjebak' dalam situasi pekerjaan yang kita tidak sukai karena ada suatu tujuan Tuhan untuk misi jiwa kita di sana.

Ada orang yang 'terpanggil' untuk hidup membiara, bekerja sebagai tokoh politik, mengajar anak-anak suku minoritas di hutan, pindah ke desa untuk membangun infrastruktur di kampung halaman, dan lain-lain. Kita mengenali ini sebagai passion, tetapi inilah misi jiwa. Ini lebih dari passion--lebih seperti tindakan lanjut dari passion. Misi jiwa adalah tugas hidup--hal-hal yang kita lakukan untuk orang banyak tanpa perlu disuruh, yang berasal dari inti jiwa kita, yang (biasanya) menyangkut, menyentuh, dan berguna untuk hidup banyak orang.

Jadi ingat buku-buku karangan bule yang pernah saya baca sebelumnya: The Five People You Meet In Heaven dan Tuesdays With Morrie karya Mitch Albom, atau Embraced By The Light karya Betty J. Eadie. Ketiga buku ini isinya sangat berbeda, tetapi saling mengisi untuk pengetahuan kita tentang misteri kehidupan. Mungkin pertemuan saya dengan buku-buku ini sejak tahun 2000-an akhirnya membawa saya pada persiapan pemenuhan misi jiwa ini.


Lalu, lalu?

Saya tergerak saat membaca beberapa kisah di buku Siklus Kenikmatan Misi Jiwa, terutama di bagian 'Kerja VS Karya'. Saya sadar, saya telah memilih jalan untuk berkarya sejak kepindahan saya ke Bali tahun 2012, dan karenanya saya telah digembleng begitu hebatnya dengan berbagai masalah hidup. Tak jarang saya putus asa di tengah perjalanan, walaupun saya selalu teringat kata-kata Paulo Coelho: 'Saat hidup menyerangmu dengan hebat, jangan mengeluh. Menangislah keras-keras, menyumpah serapah juga boleh, tetapi jangan protes. Kamu bukan korban.'

Wejangan-wejangan bijak dari Paulo Coelho adalah kalimat pegangan dan penguat jiwa saya. Saya bisa bertahan sejauh ini, salah satunya dengan mem-brainwash otak saya dengan quote dari beliau dan banyak penulis lain. Tetapi saya menemukan buku baru, berbahasa Indonesia, yang semakin mengukuhkan perjalanan spiritual saya: buku Mas Herwi ini.

Buku ini juga mengubah cara pandang kita pada kehidupan, dari sudut perikemanusiaan menjadi sudut perikeTuhanan (atau yang kawan saya bilang, dari perspektif Malaikat--atau yang para motivator bilang sebagai 'out of the box'.) Menurut saya, dengan mengubah cara pandang 'sebagai korban' menjadi 'subjek pelaksana misi Tuhan', kita bisa membuang lebih dari setengah masalah hidup kita dan memfokuskan energi dan perhatian pada hal-hal penting, yaitu pada tujuan dan prosesnya.

Lewat gaya bahasa sehari-hari yang ringan dan mudah dicerna (diselipi sumpah serapah khas Mas Herwi) juga ilustrasi menarik yang tersisip, kita diajak untuk merefleksi diri dan bertanya: sudah siapkah saya untuk menjalani misi jiwa?



Tapi apa misi jiwa saya?
Bagaimana cara saya mengenalinya?
Saya merasa tidak spesial, apa saya juga punya misi jiwa?

Nah untuk pertanyaan-pertanyaan di atas, cuma kamu sendiri yang bisa menjawabnya, karena setiap manusia punya misinya sendiri-sendiri. Untuk memahami dan mengenali serba-serbi misi jiwa yang memusingkan ini, saya sarankan baca buku 'Siklus Kenikmatan Misi Jiwa' karangan Mas Herwiratno, karena pemahamannya akan berbeda jika membaca sendiri dengan jika saya kasih rangkumannya di sini.


Bisa pesan langsung ke: 
0878 7791 6900
0812 9173 414
herwiratno@yahoo.com

Harganya Rp110.000,- termasuk ongkir Jakarta. 
Untuk dua buku sebelumnya, harganya total Rp200.000,- termasuk ongkir Jakarta.

Ada satu aturan lucu dari penulis nih: 
SYARAT PEMBAYARAN nanti saja setelah:
  1. Bukunya diterima
  2. Tersedia dananya, dan
  3. Sempat waktunya


Selamat membaca dan memenuhi panggilan misi jiwa!



Rahayu
_/|\_

You Might Also Like

1 comments

  1. Sepertinya buku ini benar benar bagus ya. Saya tertarik untuk memikikinya dan saya sudah pesan langsung ke Pak Herwiratno. Persis seperti yang dipaparkan di atas. Buku langsung dikirim, walaupun belum konfirmasi pembayaran.

    Semoga buku ini bisa menambah pengetahuan dan pemahaman saya setelah kehilangan saudara saya. Liat judulnya saja sudah menghibur. 😀

    ReplyDelete

Popular Posts

Follow Me

Google+ Followers

Subscribe