Menjadi Baduy

02:18


Sudah lama saya ingin berkunjung ke Baduy Dalam, terutama kalau dengar orang bilang "lo orang Banten jadi udah pernah ke Baduy dong?" dan terlebih karena tidak ada bukti foto yang bisa ditemukan tentang Baduy Dalam. Saya jadi semakin penasaran: apa sih yang ada di dalam desa itu sampai segitu dirahasiakannya?

Sudah ada ajakan teman untuk berkunjung ke Baduy Dalam selama 3 tahun terakhir, tapi hati rasanya belum sreg sampai mas Anda Wardhana dari Omah Wulangreh mengajak saya ikut tur "Be Baduy" akhir pekan lalu dengan konsep "melakoni peran" dan bukan sekadar menjadi pelancong--yang tentu saja langsung saya iyakan.

Jadi subuh hari Sabtu kemarin saya sampai di Wulangreh Pejaten sebagai meeting point dengan 4 peserta lain dan 2 orang panitia. Dengan mobil Ertiga kami berangkat tepat pukul 3.45 sesuai jadwal menuju Rangkas Bitung. Tentu saja saya meneruskan tidur sepanjang perjalanan.


sambil nunggu, ketemu mbak jamu yang meracik jamu beras kencur untuk saya

Jam 7 pagi kami sudah sampai di Kabupaten Lebak, dan menunggu jemputan sambil menikmati jamu motor (bukan jamu gendong), kacang suuk, dan kopi cap Angkot (yang terakhir ini menjadi kopi penyelamat kami selama di Baduy Dalam). 


Kopi Cap Angkot saingan Kopi Cap Oplet

Saat menunggu itulah kami mulai berbincang dan berkenalan sesama peserta. Selain saya, ada mas Nur Jabir, mbak Nina Salma, mbak Tytiek dan mas David sebagai peserta. Panitianya mas Audi dan mas Arvi.

Lalu mas Anda dan mas Rendy yang sudah duluan masuk Cikeusik sehari sebelumnya datang menjemput kami dan segera peserta dibagi dua karena alasan jalanan rusak yang harus kami tempuh dinilai terlalu berat untuk Ertiga. Jadi saya dan mbak Nina pindah ke mobil Ford double cabin milik mas Anda.


kalau nemu pertigaan ini, belok kiri--yang saya ingat dari pertigaan ini hanya iklan kampanyenya saja sih



gapura biru itu penanda jalan masuk menuju destinasi wisata Baduy Dalam



dari titik ini masih ada 20-30 menit perjalanan sampai Desa Cijahe



walau sudah masuk gapura, penghuni sepanjang jalan ini adalah orang luar Baduy, dan bukan orang Baduy Luar 


pedesaan demi pedesaan diselingi hutan seperti ini



perhentian kendaraan terakhir--lewat dari sini dilanjutkan dengan berjalan kaki

Perjalanan hampir sejam itu berakhir di Desa Cijahe yang telah dirapikan menjadi tempat parkir dan belanja untuk tujuan wisata Baduy Dalam. Dari sana pengunjung bisa memilih arah ke Cibeo atau Cikeusik, dua desa Baduy Dalam terdekat, atau ke desa Baduy Luar di sekitarnya. Kami ke Cikeusik dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam berjalan kaki.

jembatan bambu Cijahe



keindahan pemandangan yang terasa lebih intim karena kaki tak terhalang alas



wajah bahagia saya 'bertemu' dengan alam


saung milik Aki


Dari titik ini kami menitipkan sandal di mobil yang terparkir, dan melanjutkan berjalan kaki tanpa alas selama hampir sejam. Kami sempat mampir ke saung milik Aki tuan rumah kami untuk tukar pakaian dengan kaus dan kain khas Baduy Dalam yang telah disiapkan menjadi kostum selama masa kunjungan kami. Setiap keluarga Baduy Dalam punya saung yang mereka bangun di dekat ladang untuk ditempati selama masa tanam atau panen. Mereka bisa tinggal di saung selama beberapa hari atau minggu, dan kembali ke desa hanya pada saat hari perayaan tertentu.


kami masing-masing mendapat tas punggung waterproof, kain hitam untuk bawahan, kain putih untuk aksen, dan kaus "Be Baduy"

Yang perempuan mendapat kain hitam lebar untuk bawahan dan selendang putih untuk ikat pinggang, sementara para lelaki mendapat kain hitam pendek garis-garis motif cikur untuk bawahan dan telekung putih untuk dipakai di kepala. Ciri khas orang Baduy Dalam bisa dikenali lewat padanan warna hitam-putih ini, sementara pakaian masyarakat Baduy Luar lebih berwarna; seperti lomar (ikat kepala) mereka yang berupa kain batik cap garuda biru-hitam.


ini saya dan kostum saya; walau tenun yang saya pamerkan berasal dari Sumba bukan Baduy

tekstur alam yang kami injak: tanah lembut, tanah becek, tanah keras, batu kali, batu kerikil, kayu, akar pohon, daun kering, dan air

pose terakhir sebelum masuk Cikeusik; kami dilarang memotret ke arah kampung jadi hanya bisa memotret dari arah kampung.. Di belakang, teman saya pakai kostum lelaki berupa kain pendek untuk bawahan dan kain putih dililit di kepala

Sesampai di depan jembatan bambu menuju Desa Cikeusik kami diingatkan untuk tidak menggunakan alat elektronik apapu kecuali senter. Pengambilan foto sangat dilarang, jadi yang terjadi 24 jam berikutnya adalah menahan keinginan memotret dan mencoba mengabadikan momen demi momen di dalam otak, karena semua pengalaman ini sungguh berkesan.


Pengalaman "Be Baduy"

Kami sampai di rumah milik Aki (nama beliau saya rahasiakan karena permintaan beliau) sebelum tengah hari. Setelah rehat sebentar, kami dipersilakan masuk ke dalam rumah panggung bambu dan menyantap makan siang (mungkin) terbaik yang pernah saya nikmati: nasi putih hasil ladang, tumis kangkung terlezat, ikan asin, sambal kecombrang dan lalap daun rendeu (ada petai bakar juga sih, tapi saya tidak makan petai). Ini sungguh merupakan elemen kejutan karena saya sama sekali tak menyangka masakan di sana rasanya bisa senikmat itu!

Hujan turun cukup lebat, jadi habis makan kami hanya leyeh-leyeh dan mengobrol di teras panggung bambu rumah Aki bersama Kang Sardin--seorang Baduy Luar yang menemani kami di sana--dan seluruh rombongan kami. Karena kurang jam tidur sebelumnya, saya dan para peserta perempuan memutuskan untuk tidur siang beralas tikar rotan di atas lantai bambu. Untung aja bantalnya terbuat dari kapuk. 

Dan siang itu adalah pertama kalinya saya mengalami tidur bersama kucing dan ayam yang berkeliaran di rumah, sambil mencium aroma mangga kweni yang disimpan di dekat tempat kami tidur. Rumah itu tidak punya perabotan selain peralatan dapur, dan hanya terdiri dari satu ruangan utama dan satu ruang kecil untuk dapur. Jadi kami makan dan tidur di area lantai yang sama. Tapi ajaibnya tidur saya lelap walau hanya 15 menit. Saya terbangun dengan segar.

Usai hujan reda kami turun ke sungai untuk mandi. Bagian perempuan dan lelaki dipisah, dan kami mengenakan kain. Ini pengalaman pertama saya mandi di sungai seperti itu, dan kami tidak diperboleh membawa sabun, shampoo, maupun odol; jadi mandi itu intinya hanya bilasan. Mereka punya dedaunan khusus untuk menggosok badan menggantikan peran sabun, tapi saya tidak memakainya (karena saat itu tidak diberi tahu yang mana dan takut salah ambil daun).

Tidak banyak yang kami lakukan selain ngopi dan ngobrol. Makan malam pun tiba dan kami lahap menyantapnya, walau menu siang rasanya tetap lebih nendang. Lalu kami beramai-ramai ke sungai kecil sekitar jam 9 malam untuk menangkap ikan. Lebih tepatnya dengan mengetok kepala mereka dengan golok. Hebat, ya!

Tapi kami pulang dengan tangan hampa karena rupanya jam berburu ikan harus dimulai lebih malam; ikannya masih terlalu aktif di jam 9 malam untuk ditangkap. Beberapa dari rombongan kembali ke sungai dalam dua jam berikutnya, tapi saya dan sebagian besar rombongan memilih untuk tidur.

Sekitar jam 2-3 pagi saya terbangun karena dingin yang terasa menusuk. Hal ini cukup menyiksa untuk saya yang kurang bisa tahan dingin. Tapi setelah mencoba mengoleskan minyak (yang sepertinya sama sekali tidak mengurangi dingin) dan menggosok-gosok tangan dan kaki, akhirnya saya pulas lagi..

..sampai jam 5 pagi kami dibangunkan alarm yang berbunyi kencang tapi sepertinya tak ada satupun dari kami yang bergerak walau semua mendengar alarm itu. Tak ada setengah jam kemudian saya dibangunkan mbak Nina yang mengajak saya jalan di luar.

Kang Sardin dan Aki sudah membakar kayu dan menjerang air, jadi kami berkumpul di sekitar api untuk menghangatkan badan. Pagi itu saya menyeduh kopi cap Angkot yang kami beli di desa sebelumnya dengan centong bambu dari ceret perunggu di depan rumah. Saat itu rasanya saya senang sekali, walau kalau dipikir lagi sebenarnya biasa aja sih.

Aki menawarkan tur ke hutan, jadi kami yang sudah bangun ikut jalan-jalan menyusuri setapak membelah hutan. Tak seperti perjuangan berat di Merangin (Jambi) tahun lalu, kali ini jalan-jalan terasa ringan. Entah karena tidak pakai sepatu, yang mengurangi resiko terpeleset, atau karena kemenyatuan dan keintiman dengan Ibu Bumi yang kami rasakan sepanjang jalan, pagi itu saya tidak mengeluh sama sekali.

Kami menginjak tanah lembut, tanah keras, kayu, batu, kerikil, fosil, dedaunan kering, dan banyak lagi. Saya jadi mengenal sifat semuanya lebih jelas; memilih batu dan dedaunan ketimbang tanah basah, dan memilih tanah ketimbang batu di bawah terik mentari. Kami diperkenalkan pada tetumbuhan, mana yang bisa dimakan dan apa khasiatnya (walau jujurnya semua terlihat mirip dan namanya susah dihafalkan).

Di suatu titik di dalam hutan kami seperti masuk ke setting film-film dinosaurus: pohon pakis raksasa dan sungai yang mengalir di bawahnya. Sungguh seperti di film kartun atau fantasi. Indah sekali!

Kami terus berjalan sampai tiba di sebuah ladang padi (di sini padi ditanam langsung ke tanah tanpa media air, dan masa panennya setahun sekali) dengan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Beberapa batu lebih besar dari genset menjadi tempat kami berpijak/duduk menikmati alam. Kami berdiam beberapa saat di sana, berusaha merekam sebaik mungkin dalam memori untuk dibawa pulang.


Mbak Tytiek, Mas Audi, dan saya bergaya di atas bebatuan purba; foto oleh Kang Sardin
(jadi kami tidak melanggar peraturan karena bukan kami yang mengambil gambar ini--hehehe..)

Lalu Aki mengajak kami pulang lewat jalan lain, yang pemandangannya jauh lebih fantastis. Ratusan bebatuan purba zaman Paleolitikum terhampar di bukit, dan di seberang sana paduan hijau berbagai vegetasi alam tampak seperti lumut yang menghiasi bukit. Rasanya seperti berada di museum purba yang hidup; segala yang ada di alam ini terasa sangat purba, tapi juga segalanya sangat hidup.

Kami kembali ke rumah sekitar jam 8 pagi. Sebagian bergegas mandi, sementara saya memilih tidur siang untuk membayar tidur malam yang kurang memuaskan. Setelah itu kami bersiap menghadap Pu'un, sang kepala suku. Pu'un tinggal di 'rumah dinas' di atas bukit, terpisah dari 80 rumah penduduk lainnya. Dan tidak semua orang bisa menghadap Pu'un, jadi kami merasa sungguh beruntung bisa mendapatkan kesempatan itu.

Di sana, kami masing-masing didoakan dan diberi bekal untuk meneruskan perjalanan hidup. Di rumah Pu'un itu saya merasa sangat menyayangkan tidak bisa memotret karena banyak sekali objek yang bisa menjadi bahan postingan Instagram yang indah (LOL)--tapi di momen itu saya juga menyadari betapa beruntungnya saya bisa menikmati itu semua secara langsung.


sesuai janji, kami harus merahasiakan wajah dan nama Aki seperti juga semua hal yang kami temui di Kampung Cikeusik
seperti halnya Ilmu Jawa, Baduy Dalam juga menerapkan ilmu lisan dan laku ketimbang tulisan
foto ini diambil di lumbung padi, agak keluar dari areal perumahan


ladang sawah kering dan saung Aki

tampang sumringah tapi capek seusai ziarah "Be Baduy"

Kami kembali ke rumah untuk menyantap makan siang yang juga mengakhiri sesi "Be Baduy" kami. Usai makan, kami membereskan barang-barang dan bersiap menempuh perjalanan pulang. Kami sempat mampir sejenak di saung Aki untuk berfoto terakhir, lalu kembali ke Jembatan Cijahe. Setelah bersantai dan mengucap salam perpisahan (dan belanja beberapa suvenir), kami menyusuri jalan dan sampai di Omah Wulangreh jam 8 malam--satu jam lebih awal dari perkiraan.

kalau jeli, di foto ini kalian bisa melihat desa Cikeusik di kejauhan..

Kembali ke Jakarta, sebagian diri saya senang bisa menggunakan toilet normal dan kasur yang nyaman, tapi sebagian lagi merasa ada yang berbeda di dalam diri. Walau awalnya saya mengira perjalanan ini adalah sebuah tur, kini saya sadari pengalaman saya di Baduy Dalam adalah sebuah ziarah. Walau yang kami lakukan tampak sangat sepele dengan leyeh-leyeh dan jalan-jalan di hutan, sangat banyak pelajaran yang kami dapatkan selama 24 jam itu--sebuah anugerah bagi jiwa saya.

Saya tahu bertualang ke Baduy Dalam bisa terdengar berbeda bagi masing-masing pribadi; menyenangkan atau kurang kerjaan. Tapi kalau kalian tertarik untuk ikut dalam tur "Be Baduy", cek akun Wulangreh dan nantikan informasi untuk tur berikutnya karena rencananya akan diadakan setiap bulan. Saya yakin, kalian tidak akan menyesal!


Catatan: 
Siapkan uang tunai lebih jika berkunjung ke sini 
karena banyak oleh-oleh yang bisa dibeli seperti 
madu hutan, gelang akar, tas akar, aneka tenun, 
baju, dan lomar Baduy Luar.



Rahayu,

_/|\_

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Follow Me

Subscribe