Renungan: Tanggung Jawab Hidup

13:23


Semalam saya menghadiri kelas spiritual paling aneh yang pernah saya hadiri. Komunitas ini menamai diri sebagai Paguyuban Goblok, dan salah satu kelasnya bernama Ngaji Urip Sinau Goblok (artinya 'mengkaji hidup, belajar goblok'). Kelas yang saya hadiri semalam berjudul Kala Kula Gesang (artinya 'waktu saya hidup').

Seaneh namanya, apa yang didiskusikan di dalam kelas itu sebenarnya sederhana saja, tapi maknanya sangat dalam dan membuat kita harus meruntuhkan dinding ego. Kami mengkaji hidup sebagaimana adanya, tanpa ada prasangka atau ilusi - yang biasanya membutakan kita dari realitas sebenarnya. Kadang kita terlalu terjerumus ke dalam ilusi yang kita ciptakan sendiri dan tanpa sadar hidup di dalamnya, dan menolak untuk keluar dan menghadapi kenyataan hidup; kebenaran; hidup sebagaimana adanya.

Mas Herwi, Mba Rurit dan saya

Semalam kami membahas lebih banyak tentang tanggung jawab. Bukan kebetulan, saya bertemu dengan seorang penulis Herwiratno sehari sebelumnya dan kami juga membahas topik yang sama. Kadang kita masuk ke dalam peran kita terlalu dalam, terjebak dalam romantismenya, dan jadi ge-er (besar kepala) yang membuat kita merasa kita bertanggung jawab atas sesuatu/seseorang yang sangat kita pedulikan. Peran sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai pemimpin, sebagai kekasih, sebagai pemberi... Kadang kita masuk terlalu dalam ke dalam sebuah permasalahan sehingga membuat kita lupa esensi sebenarnya dari kasus itu sendiri.


Jadi apa yang harus kita lakukan?

Seperti biasa, saya akan memulai dengan kata-kata 'carilah ke dalam!' karena memang itulah kuncinya. Nggak mudah, saya tahu, karena kita sudah terbiasa untuk mencari jalan keluar dari masalah. Padahal seharusnya kita mencari ke dalam. Saya tahu beberapa dari kalian tidak paham maksud saya, tapi supaya bisa mengerti makna kata-kata ini, kita harus benar-benar melihat ke dalam hati dan tanyakan pada diri-Mu, apa inti dari permasalahan tersebut.

Herwiratno, dalam buku ketiganya 'Siklus Kenikmatan Misi Jiwa' dan buku selanjutnya 'Perjanjian Antar Jiwa' membagi pengalaman dan pengetahuannya tentang "merasa terlalu bertanggung jawab". Kita harus sepakati dulu kalau apapun yang ditempeli kata 'terlalu' sudah pasti berlebihan, memuakkan, kehilangan makna/tujuan aslinya, dan pada akhirnya tidak berguna. Kuncinya adalah dengan bertindak (dan berbicara, dan berpikir, dan makan, dan seterusnya) dengan secukupnya.


Gimana caranya kita tahu kalau sudah cukup?

Kamu bakal tahu kok. Hati/kesadaran tinggi di dalammu akan ngasih tau. Dengarkan itu. Atau sebelum kamu bisa mendengarnya, pakai penyaring yang diajarkan Socrates ribuan tahun lalu: apakah itu benar? apakah itu baik? apakah itu perlu? Lalu tambahkan juga: apakah itu menginspirasi? apakah itu berguna? Kita bisa menambahkan saringan lain juga. Ini benar-benar harus sering dipraktikkan supaya bisa dipahami, jadi silakan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dulu. Semakin sering kita berlatih, semakin handal kita dalam hal ini, semakin terbiasa kita dengan hal ini, dan pada akhirnya ini bukan cuma jadi kebiasaan atau gaya hidup, tapi jadi karakter.


Tapi saya rasa saya bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain juga!
Gimana kalau mereka gagal? Gimana kalau mereka kecewa? Gimana kalau...

Stop di situ. Itu cuma perasaanmu kok. Emosimu. Kemelekatanmu. Dan itu adalah ilusi yang kamu percaya, dan kamu hidup di situ. Masalahnya, lakukan saja apa yang harus kamu lakukan, apa yang bisa kamu lakukan, tapi jangan lebih dari itu. Lakukan dengan memberi yang terbaik, tapi nggak usah khawatir dengan hasilnya. Pada akhirnya, apapun yang datang dan dilakukan dari dalam hati akan terlihat dan mengena di hati orang dalam tingkat jiwa. Mereka akan merasakannya, kalau yang kamu lakukan berasal dari dalam hati.

Jadi kuncinya fokus aja di proses menciptakan dan memberikan. Jangan khawatirkan bagaimana orang lain akan menilainya karena itu bukan masalahmu sama sekali; itu masalah mereka. Jangan khawatir jika mereka akan menyukaimu atau membencimu, karena toh kamu nggak melakukan itu untuk dipuji atau disebut-sebut -- kamu melakukannya hanya untuk membuat sesuatu terjadi dan memberikan yang terbaik darimu tanpa ada harapan atau ketakutan tentang hasilnya.

Tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan. Sepertinya sebagian besar dari kita sudah sepakat tentang ini. Tapi jangan berhenti di situ. Saya ingin kalian meresapinya lebih dalam: semua terjadi karena sebuah alasan. Jadi kita tahu bahwa ada campur tangan Semesta dalam setiap kejadian di hidup kita. Lalu kita tahu bahwa apapun alasan itu, akan membantu kita belajar, berkembang, dan bangkit dalam hidup. Jadi jangan dilawan. Tapi hadapi, jalani, dan tumbuh dari situ!

Jadi hubungannya dengan tanggung jawab adalah: lakukan saja porsimu sebaik yang kamu bisa, dan jangan khawatirkan sisanya. Reaksi orang adalah proses pertumbuhan dirinya sendiri, dan tidak ada hubungannya dengan kita. Pendapatan / hasil materi -- jika ada uang yang kita bicarakan di sini -- adalah bagian dari jatah rezeki kita. Itu diberikan sebagaimana Semesta menilik nilai kita. Jangan ditawar atau minta lebih, karena kamu nggak akan tahu perhitungan yang digunakan Semesta, karena pastinya berbeda dengan perhitungan kita manusia. Percaya aja. Lalu serahkan semua pada Semesta.

Mungkin kamu pernah mengalaminya sendiri: kejadian paling sukses yang terjadi dalam hidupmu adalah yang spontan, fleksibel, dan dilakukan tanpa terlalu banyak mikir. Dan kamu menikmati dalam menjalaninya. Ini karena pikiran/rasio/logikamu adalah hal yang menghalangimu dari energi tak terbatas yang bisa membantumu mencapai/memberikan hal yang harus kamu lakukan. Jadi lepaskan egomu (dari membutuhkan/memberi makan emosi) dan mengalir saja bersama Semesta.


Gimana dengan membantu orang lain (atau binatang)? 
Bukankah kita seharusnya berbuat baik dan membantu satu sama lain?

Ya, tapi lakukan itu hanya dalam kapasitasmu.
Jika ada yang datang minta pertolongan, lakukan apa yang kamu bisa untuk menolong mereka. Kalau permintaan itu di luar batasanmu, berikan saja apa yang kamu bisa, atau tolak permintaan itu, dan beri saran ke mana mereka bisa mendapatkan bantuan itu. Kalau kamu melihat sesuatu yang tidak minta bantuanmu tapi kamu merasa bisa menolong, atau jika ide untuk menolong hadir padamu sebagai perintah, lakukan saja. Kalau kamu nggak tergerak untuk menolong, ya jangan. Sesimpel itu kok. Jika itu bukan jatahmu untuk menolong, Semesta akan menyediakan orang lain untuk melakukan hal itu. Jadi nggak usah khawatir dan lakukan saja apa yang menjadi jatah tugasmu.


Gimana kalau saya nggak bertanggung jawab terhadap kesejahteraan orang lain?

Mereka akan kecewa. Dunianya akan hancur. Egonya akan runtuh. Mereka akan menyadari hal-hal yang nggak mereka sadari sebelumnya. Mereka akan belajar kerendahan hati. Mereka akan menghadapi ketakutan mereka. Mereka akan mengenal diri mereka. Mereka akan sadar. Mereka akan bangkit. Mereka akan berkembang. Mereka akan berubah. Mereka akan jadi dewasa. Mereka akan bangkit. Mereka akan hidup dengan potensi terbaik mereka. Mereka akan baik-baik aja.

Dan jika kamu berpikir kalau kamu bertanggung jawab untuk ambil bagian dalam perjalanan hidup mereka, bukankah kamu jadinya ikut campur dalam pertumbuhan spiritual orang itu? Bukankah kamu jadinya mengambil alih peran Semesta? Apa kamu tidak berpikir kalau kamu malah menghalangi jalan orang itu untuk mencapai pemenuhan hidupnya? Apakah kamu nggak terlalu sombong? Kita semua punya jalan dan jatah masing-masing di dunia. Jadi urus aja hidupmu sendiri.


Jadi apa aja tanggung jawab saya sebenarnya?

Setiap kita manusia di dunia punya tanggung jawab yaitu hidup kita masing-masing. Kita bertanggung jawab untuk hidup dengan cara sebaik-baiknya, dan membantu orang lain sepanjang perjalanan kita. Kita lakukan apa yang harus/bisa dilakukan, berikan yang terbaik dari diri kita, dan biarkan Semesta mengurus selebihnya. Ini berbeda dengan menjadi egois atau bebal, karena egois artinya hanya memikirkan diri sendiri, dan bebal artinya tidak tahu apa yang terjadi di sekitar. Tapi bertindak dengan tanggung jawab adalah mengetahui dengan sadar apa yang terjadi, lalu melakukan hanya apa yang menjadi jatahnya, dan tidak terbeban dengan hasil akhirnya. Ini adalah kunci hidup mulia.

Saya mau ingatkan lagi salah satu ajaran paling terkenal dari Ibu Teresa:
via steamcommunity

Orang seringkali keterlaluan, nggak masuk akal, dan egois
Gimanapun juga, maafkan mereka
Jika kamu baik, mereka menuduh kamu punya motif tersendiri
Tetaplah berbuat baik
Jika kamu sukses, kamu akan punya teman palsu dan musuh sejati
Tetaplah sukses
Jika kamu jujur dan tulus, orang akan memperdayamu
Tetaplah jujur & tulus
Apa yang kamu bangun bertahun-tahun bisa dihancurkan orang dalam semalam
Tetaplah membangun
Jika kamu mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan, mereka akan cemburu
Tetaplah damai & bahagia
Perbuatan baik yang kamu lakukan hari ini, seringkali orang melupakannya besok
Tetaplah berbuat baik
Berikan yang terbaik darimu untuk dunia, dan itu tidak akan pernah cukup
Tetaplah berikan yang terbaik
Sebagai analisa akhir, ini semua adalah antara kamu dan Tuhan;
Ini bukan antara kamu dan mereka.


Dan rasakan damai di hati setiap saat, karena gimana pun juga kamu sudah melakukan jatahmu.



Rahayu,

_/|\_

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah memberi komentar. Mohon kesabarannya menunggu saya baca dan balas komennya ya. Rahayu.

Popular Posts

Follow Me

Subscribe