Urban & Spiritualitas: Candi Nuswantara

23:40


Hari ini untuk pertama kalinya saya menggelar acara Ngobrol Buku "Candi Nuswantara". Sebelumnya saya malas untuk mengadakan acara semacam ini karena 'trauma' pengalaman waktu masa promosi buku "Gerbang Nuswantara": sudah keluar banyak uang, waktu, dan tenaga, tapi tidak terlalu banyak respon yang saya dapatkan (menurut ukuran saya ketika itu sih). Jadi ketimbang repot berkali-kali, saya pikir promosinya nanti saja sekalian setelah buku ketiga terbit.

Tapi rupanya permintaan untuk membahas spiritual dari kacamata manusia urban (seperti konsep "Urban & Spiritualitas" yang digagas oleh Omah Wulangreh untuk saya) semakin meningkat dan peminatnya semakin banyak yang mengirim pesan pribadi lewat Instagram. Alhasil, Omah Wulangreh dan saya sepakat untuk menggelar acara "Urban & Spiritualitas" kedua (yang pertama Ngobrol Buku "Gerbang Nuswantara" tanggal 1 Desember 2018 silam).

photo by courtesy of Omah Wulangreh

Jadilah hari ini kami berkumpul di Omah Wulangreh jam 4 sore untuk ngobrolin buku, walau secara teknisnya kami mulai jam 4:35. Awalnya saya memperkenalkan sinposis dan latar belakang singkat kedua buku ini. Setelah itu Mas Anda Wardhana selaku moderator membawa topik bahasan masuk ke ranah spiritual, yang langsung disusul sesi tanya-jawab. Konsep acaranya memang dibuat sesantai, sekasual, sebebas mungkin, tidak seperti acara bedah buku atau talk show. Jadi lebih ke saling berbagi cerita dan belajar bersama.

Pertanyaan pertama yang saya dapatkan cukup membuat saya kaget, karena di acara Ngobrol Buku sebelumnya lebih banyak pertanyaan teknis sebagai penulis atau kisah di balik jalan cerita buku. Tapi kali ini konsepnya memang "bahas spiritual lewat buku", jadi mau ngga mau saya harus terima kalau pertanyaan dari para hadirin lebih ke arah spiritual. Balik lagi, pertanyaan pertama saja langsung membahas tentang konsep "jawa" dan bagaimana cara orang-orang Jawa ketika itu (tahun 1500-an) bisa menerima begitu saja agama-agama "impor" yang masuk ke negeri ini. Menarik, ya. Yang bingung itu ngejawabnya...

Pertanyaan kedua memang lebih teknis, seperti apakah saya pernah blusukan langsung ke lokasi-lokasi yang saya tuliskan di cerita, apakah tokoh nganu benar-benar pernah ada di sejarah ataukah hanya simbolis... Tapi lalu ada yang menanyakan perjalanan spiritual pribadi saya yang masuk ke ranah simbolis dan bukan lagi fisik/materi. Lalu pertanyaan selanjutnya lebih ke karakter tokoh di dalam buku.

photo by courtesy of Omah Wulangreh

Saya tidak mau bahas jawabannya di sini, karena (1) panjang sekali [duh malas ngetiknya ya, bayangkan aja acara yang tadinya diperkirakan jam 6 sudah selesai malah baru rampung jam 7:20, belum lagi acara ngobrol lanjutan sejam lagi], dan (2) saya tidak mencatat semua jawaban itu, juga (3) karena artikel ini hanya berfungsi sebagai laporan saja, (4) supaya kalian datang langsung acara berikutnya jadi dibikin penasaran dulu di sini. Yang jelas ada bahasan tentang Kahyangan (lampiran di bagian depan buku Candi) dan ini akan dijadikan bahan topik untuk pertemuan "Urban & Spiritualitas" berikutnya.

Saya sungguh menikmati diskusi seperti ini: seru, intim, intens, dan luas. Mungkin karena jumlah pesertanya tak sampai 10 orang (sebenarnya lebih, tapi ada yang pulang duluan tadi) dan semua pihak saling berbagi cerita/pendapat/pertanyaan, saya mendapatkan banyak pelajaran dari acara ini. Meminjam istilah orang Minangkabau, "lapau" atau warung, dimana teman seperjalanan bisa ngobrol bareng sambil makan dalam suasana santai, dan belajar bareng dengan saling berbagi pengalaman. Semua adalah guru dan semua adalah murid.


Tidak sabar nunggu sesi "Urban & Spiritualitas" berikutnya, nantikan dua minggu mendatang ya!



Rahayu.

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah memberi komentar. Mohon kesabarannya menunggu saya baca dan balas komennya ya. Rahayu.

Popular Posts

Follow Me

Subscribe