Renungan: Label Orang

15:20


Label adalah sejumlah keterangan pada kemasan produk. Biasanya label mencantumkan nama, jenis, sifat, komposisi produk, tanggal kedaluwarsa, dan sebagainya. Begitulah kita juga ya, seringkali melabel orang dengan prasangka / kesimpulan yang hanya berdasarkan sebuah kejadian / kebiasaan. Padahal ada jutaan hal / kebenaran lain tentang orang ybs yang tidak kita ketahui.

Semalam kami berkumpul di ruang Urban & Spiritual di Omah Wulangreh, membahas konsep Struktur Kahyangan yang diambil dari lampiran halaman depan buku Candi Nuswantara. Dalam satu kesempatan, mbak Turita menjabarkan konsep religi Jawa yang berkaitan dengan konsep Kahyangan ini, dimana manusia punya beberapa tingkatan menuju Tuhan (yang juga mirip dengan konsep Mandala Manusia):

  1. Kondisi dasar sebagai manungsa / manusia hewani (masih bersifat hewani, penuh nafsu duniawi)
  2. Manusia sebagai wong / manusia insani (sudah mampu membedakan mana yang baik dan buruk)
  3. Manusia sebagai jalma / manusia ilahi (berkesadaran untuk ikhlas menjalankan perintah Tuhan)
  4. Manusia sebagai jalma winilis / manusia tertuntun (yang menerima tuntunan Tuhan dan melakukan apapun dengan kesadaran)
  5. Manusia sebagai jalma pinilih pininta / manusia terpilih (yang menerima petunjuk Tuhan dan diperintahkan untuk menjalankan visi-misiNya)

Pada tingkatan teratas, manusia sudah tidak lagi menilai apapun dari sudut pandang dualisme. Setiap kejadian dilihat sebagai peristiwa hidup, cerita Semesta, dan apa adanya. Tidak ada lagi penilaian baik/buruk, benar/salah, dst, karena semua penilaian itu tak lain adalah produk pikiran, yang artinya telah mengalami 'penambahan bumbu' dari apa yang aslinya disajikan oleh Semesta.

Seperti itulah ideal kehidupan ini. Tanpa ada prasangka / kesimpulan, setiap insan selalu punya kesempatan untuk 'mulai baru' setiap saat, meluruhkan semua masa lalu untuk hidup sepenuhnya di masa sekarang. Tanpa embel-embel label, manusia punya hak dan kesempatan yang sama untuk berbuat baik. Ironisnya, keberadaan label bukan untuk mencegah orang lain berbuat baik, tetapi malah menghalangi kita untuk berbagi kasih pada orang lain.

via tomknight

Salah satu guru spiritual yang saya temui punya kebiasaan untuk mengukur / menilai dan mengategorikan orang-orang yang ditemuinya. Ia punya metode khusus untuk mengukur tingkat kesadaran seseorang (yang awalnya dikembangkan oleh David R. Hawkins) dan memilah orang ke kategori ras cahaya dan ras non-cahaya--atau alam atas dan alam bawah.

Sebetulnya ini adalah hal yang sah-sah saja dilakukan, karena memang ada metodenya. Tetapi jika digunakan tidak pada tempatnya atau tanpa kebijaksanaan, hasilnya bisa membuat kita jadi terbiasa untuk melabel orang lain, memasukkan mereka ke dalam berbagai kotak yang kita ciptakan sendiri, terpaku dalam batasan itu, mematikan karakter orang lain, menghambat perkembangan jiwa orang lain serta perkembangan kita sendiri, dan karenanya mencegah kita berbuat kasih.

Jadi dengan kondisi baru saya yang mulai berkesadaran, sang guru ini malah mempengaruhi saya untuk melihat orang berdasarkan label yang ia ciptakan atau sugestikan. Alhasil, pemikiran saya saat itu jadi terkotak-kotak dan berbatas; walau apa yang ia ajarkan seharusnya mengenai ketakterbatasan. Akibatnya, ia membuat saya merasa lebih dari orang lain. Mungkin karena kepentingan beliau yang saat itu ingin memanfaatkan saya. Jadi (mungkin) ia (sengaja) 'meninggikan' saya supaya ketika saya masuk ke jebakan ego, di saat itulah dia bisa mengambil kesempatan untuk mengalahkan saya. Untungnya saya tidak termakan jebakan itu (baca lebih lanjut di sini).

Walau hal ini berhasil mendongkrak tingkat kepedean saya yang tahun lalu sempat amblas, tapi saya merasa jika metode penilaian ini diterapkan pada orang yang belum siap untuk memprosesnya dengan sikap netral, akibatnya bisa menimbulkan kesombongan dalam diri--dan ini bisa fatal. Hal ini disebabkan karena kebiasaan manusia yang susah move on dari sebuah keadaan, dan label yang tertempel biasanya melekat untuk waktu yang lama, jauh setelah peristiwa yang menimbulkan penilaian itu terjadi. Berbekal pengalaman ini saya merasa jauh lebih baik untuk tidak menilai siapapun dengan metode apapun, supaya kita tidak jatuh ke perangkap persepsi.

via quotemaster

Guru saya berikutnya, yang kemudian memperbaiki banyak konsep berpikir saya, senantiasa mengingatkan saya bahwa semua manusia itu setara adanya; semua sejajar. Tidak ada yang lebih hebat, tidak ada yang di bawah. Tidak ada yang lebih unggul, tidak ada yang tidak spesial. Semua sama, tetapi berbeda. Itulah keunikan kita sebagai manusia. Semua punya jalan hidup, porsi, tugas, dan laju yang berbeda. Tetapi asalnya semua sama, dan akhirnya pun sama.

Cara berpikir seperti ini sangat membantu saya untuk bersikap netral, terutama dalam melihat diri saya sendiri--karena tanggung jawab saya hanyalah terhadap diri saya sendiri. Kondisi orang lain sama sekali bukan urusan saya, kecuali jika orang itu datang meminta pertolongan. Itupun bukan berarti saya adalah orang hebat. Saya menolong hanya karena / sesuai dengan kapasitas dan kesempatan saja. Kira-kira seperti itu pelajaran yang saya dapat beberapa bulan terakhir.

Terus terang ini merupakan salah satu hal paling sulit yang masih saya upayakan. Terutama karena saya tumbuh di lingkungan yang terbiasa untuk menilai dan melabel orang. Dan mengosongkan memori tentang seseorang yang sudah punya banyak catatan buruk jelas bukanlah hal mudah. Tapi dengan bekal perspektif baru ini, saya melihat dunia (setidaknya orang-orang dan kejadian di sekitar saya) dengan cara berbeda. Saya harap, kita bisa bersama-sama belajar dan berubah menjadi lebih baik.



Rahayu.

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah memberi komentar. Mohon kesabarannya menunggu saya baca dan balas komennya ya. Rahayu.

Popular Posts

Follow Me

Subscribe