Nyaleg, Gagal, Tetap Waras

02:03





Kemarin saya diminta jadi moderator sebuah acara diskusi menarik yang diadakan oleh Komunitas Penulis Penerbit Buku Kompas (KP-PBK) dalam acara Kamisan (acara hari Kamis walau ga tentu berapa bulan sekali diadakannya dengan semangat 3B alias Bersilaturahmi, Berbagi dan Belajar) oleh sang Pak Lurah, mas A. Bobby Pr. yang saya iyakan saja untuk latihan ngomong di ruang publik.

Tema obrolannya cukup keluar dari comfort zone saya: "Nyaleg, Gagal, Tetap Waras". Padahal salah satu prinsip saya adalah nggak mau urusan sama yang namanya politik. Tapi berhubung ini pada nggak terpilih di pileg bulan Mei silam, saya oke-oke aja. Karena nggak akan ngebahas politik kayak klub lawyer. Apalagi karena dihubungkannya ke salah satu topik yang menarik buat saya yang telah ditulis jadi buku Filosofi Teras terbitan PBK oleh mas Henry Manampiring.

Ngopi dulu (dok. KP-PBK)

Sebelum acara (dok. KP-PBK)

Acara dimulai jam 14:30 (mundur 30 menit dari jadwal karena alasan teknis) dan saya memulai acara bincang itu dengan memersilakan mas Budiman Sudjatmiko (PDI-P) sebagai manusia politik (bukan politisi) senior yang telah berkiprah selama puluhan tahun, bercerita kisahnya tentang pileg kemarin. Beliau menyampaikan beberapa hal sehubungan dengan tema acara yang saya rangkum dalam poin-poin sebagai berikut:
  1. Sebagai calon legislatif, sejak awal beliau punya visi perjuangan/strategi untuk kesetaraan dan keadilan bagi rakyat. Dirinya atau tidak yang terpilih tidak masalah, yang penting programnya dapat terlaksana.
  2. Supaya tetap 'waras' menerima 'kekalahan', kita harus tahu alasan mengapa kita gagal (dipahami dan diperbaiki untuk kesempatan berikutnya)
  3. Pemilihan legislatif ini hanyalah 'permainan', dalam artian ada sejumlah aturan yang harus diikuti, tapi ini bukan sesuatu yang mutlak, jadi gagal dalam pileg bukanlah masalah.

Rian Ernest dan Budiman Sudjatmiko (dok. KP-PBK)

Kemudian, Rian Ernest (PSI) sebagai perwakilan caleg junior (di usianya ke-31 tahun ini), juga menyampaikan hal serupa yang saya rangkum dalam poin-poin berikut:
  1. Sebagai 'anak baru' di dunia politik, ia pun sudah punya visi jangka panjang untuk berkarier di sini, sehingga menang atau kalah di pileg kemarin adalah pelajaran yang bisa ia ambil.
  2. Apapun hasil pileg, ia tidak kecewa atau sedih, karena ia merasa sudah memberikan yang terbaik dan melakukannya dengan cara yang benar. 
  3. Semakin besar / jauh jangkauan pandang visinya, semakin kita bisa cool menghadapi kekalahan / kegagalan.

Pembicara ketiga, yaitu Henry Manampiring, melengkapi kisah kedua caleg tadi dengan penjelasan stoic / stoa (pemikiran filsafat yang berkembang di Yunani-Romawi lebih dari 2.000 tahun silam) dalam poin-poin sebagai berikut:
  1. Kesadaran akan adanya dichotomy of control / dikotomi kendali yang membagi keadaan atas dua hal: yang bisa dikendalikan dan yang tidak bisa dikendalikan. Dan hal-hal yang bisa dikendalikan hanyalah pikiran, perkataan, dan tindakan diri sendiri. Hal-hal di luar itu tidak berguna untuk dipikirkan.
  2. Segala hal yang terjadi adalah netral. Yang membuatnya jadi baik atau buruk adalah penilaian kita. Yang penting adalah pemahamannya dan bagaimana kita memaknai hal tersebut.
  3. Nilai kita sebagai manusia tidak dipengaruhi oleh kondisi apapun, apalagi dari hal-hal yang terjadi di luar dirinya. Jadi yang lebih penting bukanlah kekalahan atau kemenangan, melainkan bagaimana kita menyikapinya.

Para Penulis PBK (dok. KP-PBK)

dok. KP-PBK

Sepanjang acara, saya cukup menyayangkan betapa diskusi menarik ini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Saya merasa ada baiknya jika lebih banyak orang yang tahu. Itu sebabnya saya menuliskan post ini, meski tidak bisa terlalu mendetail. Saya cuma bisa menyarankan buku Filosofi Teras ini bukan hanya untuk dibaca tapi juga dipahami, dimaknai, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari--bukan hanya dalam hal politik.

Saya melihat apa yang sebenarnya dilakukan mas Henry dalam buku ini tak jauh berbeda dengan gerakan Urban & Spiritual yang sedang saya rancang saat ini (Mental Support Jakarta dan Indo Tarot, salah satunya). Mengemas ulang filosofi (dalam kasus saya adalah spiritual) dengan budaya pop yang lebih mudah dicerna anak zaman now. Saya senang sekali ada buku seperti ini yang sangat menjawab kebutuhan manusia dalam hal eksistensi dan mengendalikan pikiran. Jika dibaca dengan kesadaran, tentu hal ini akan jadi luar biasa.



Saya salut pada semua pembicara yang hadir di acara kemarin. Kedua caleg berhati besar dan bersemangat dengan energi positif dan punya visi yang bagus untuk kemajuan dan perkembangan bangsa ini, serta seorang filsuf modern yang malah bekerja di dunia periklanan--bukan sebagai guru filsuf. Kombinasi yang menarik, dan saya merasa sangat bersyukur diikutsertakan belajar hal baru hari ini. Terima kasih KP-PBK dan Penerbit Buku Kompas untuk acara Kamisan yang melibatkan saya kali ini!


 
Salam literasi!
Rahayu!

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah memberi komentar. Mohon kesabarannya menunggu saya baca dan balas komennya ya. Rahayu.

Popular Posts

Follow Me

Subscribe