BWCF 2019: Tantrayana & Panteisme Sebagai Budaya Indonesia

21:52

Menyambung artikel konpers dua minggu lalu, sekarang saya mau laporan pengalaman mengikuti BWCF akhir pekan kemarin. Karena acara pembukaan dimulai tanggal 21 November, saya dan Dr. Turita Indah Setyani (yang saya panggil Mbak Ita) berangkat naik pesawat jam 14.05 dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, menuju Adisucipto Yogyakarta. Sesampai di sana sekitar jam 15.00, kami dijemput dan langsung menuju ballroom Hotel Tentrem dimana acara pembukaan itu berlangsung.

Mba Ita dan saya tiba di Bandara Adisucipto sekitar jam 15.00

Selamat Datang Di Yogyakarta

Acara pembukaan di Hotel Tentrem, Yogyakarta

Saya tidak begitu mengikuti rangkaian acaranya, karena datang terlambat (penerbangannya reschedule mundur 3 jam dari yang seharusnya kami berangkat jam 11.00) dan tidak dapat tempat duduk saking penuhnya. Di sepanjang lobby dan lorong ruang ballroom digelar berbagai macam buku bertema agama dan budaya dari berbagai penerbit Indonesia. Banyak judul yang menarik di sana, hanya saja saya tidak sedang ingin menambah koleksi buku saat ini, jadi saya kurang begitu memperhatikan juga.

Sebuah lukisan indah yang membuat saya terpukau, "Lumpang Kencono" karya Agus Sudarto

Rangkaian acara pembukaannya kurang lebih berisi kata sambutan dari Romo Mudji Sutrisno, S.J. dan penayangan film dokumenter Profil Romo Zoetmulder sebagai salah satu pakar sastra jawa dan budaya di Indonesia (meski beliau berdarah Belanda). Selebihnya adalah penganugerahan Sang Hyang Kamahayanikan Award untuk Prof. Dr. Achadiati Ikram, dan bincang buku dengan beberapa penulis yang diundang. Salah duanya yang saya kenal adalah Seno Gumira Ajidarma (buku Nagabumi) dan I Ketut Sandika (buku Tantra, Ilmu Kuno Nusantara) yang menyambung tema umum BWCF kali ini; panteisme (yang sering disalahartikan jadi "kejawen").

bikin saya cukup heran, bule-bule ahli sastra kuno ini semuanya jago Bahasa Indonesia!

Usai acara makan malam, ada pidato kebudayaan oleh Dr. Andrea Acri (seorang Prancis) tentang "Tantrayana di Jawa Kuno". Acara berakhir jam 21.00 lebih, dan kami berangkat ke area Tirtodipuran untuk menyambangi rumah salah seorang kerabat dari Mbak Ita. Setelah itu kami menuju ke Magelang, tempat hotel kami berada.

Hotel yang dipesankan panitia: Pondok Tingal

dindingnya dari bilik, nggak apa-apa sih sebenernya..

..tapi pas masuk kamar mandi ketemu katak dan jamur, sungguh sulit kutoleransi rasanya!

Sektiar jam 23.30 kami berhasil check-in di Pondok Tingal, sebuah losmen lama dengan halaman yang luas. Sayangnya, kamar yang saya dapat terasa berdebu dan kamar mandinya kurang masuk ke dalam standar saya (dalam artian kebersihan). Dan, sebuah kejutan menunggu saya--seekor katak telah menunggu saya di kamar mandi! Ia menatap saya penuh kebingungan, karena tiba-tiba mengganggu ruangannya yang tadinya tenang.

pindah ke sini jam 01.30 pagi, sambil geret-geret koper dan gendong gembolan sekitar 100 meteran...

... dan pas masuk kamar liat ini, langsung kebayar semua rasanya

ngecek kamar mandi, langsung mandi keramas air panas, dan langsung nyenyak tidurnya

Baru sekitar jam 01.00 roommate saya datang dan ia mengajak saya pindah kamar. Setelah beberapa saat kami sepakat untuk pindah ke Hotel Shankara. Sebuah pilihan yang luar biasa ketika badan sudah lelah, kecewa dengan kondisi kamar yang sekarang, dan letaknya hanya seratus meter dari Pondok Tingal. Malam itu saya tidak jadi kecewa; malah bisa tidur dengan nyenyak!

Hari Ke-1

Hotel Manohara, venue kami selama dua hari ke depan

workshop meditasi Tantra

Tadinya saya dan kawan-kawan mau ikut yoga pagi jam 5 yang diikuti meditasi di pelataran candi. Tapi karena baru bisa tidur jam 2 lebih, kami urung yoga dan memilih untuk melanjutkan beristirahat, mengingat jadwal yang cukup padat seharian nanti. Kami sampai di Hotel Manohara jam 10 lewat, dan acara-acara telah dimulai. Kawan-kawan saya mengikuti simposium filologi dan budaya, sementara saya memilih workshop meditasi Tantra, yang diambil dari buku Tantra karya I Ketut Sandika.

Setelah itu tiba saatnya makan siang, dan ternyata semuanya sudah disediakan secara prasmanan dan gratis untuk peserta--selama dua hari di sana semua makan pagi (di hotel), siang, malam, dan berbagai snack disediakan oleh panitia. Tapi tidak semua orang bisa terpilih ikut dalam festival ini. Hanya peserta yang telah mengajukan pendaftaran dan terpilih saja yang bisa hadir. Saya merasa beruntung jadinya.

Candi Borobudur terlihat jelas dari hotel Manohara

dan saya memutuskan untuk jalan-jalan sambil motret buku

Jam 1.30 siang acara-acara pun dimulai lagi. Saya tidak mengerti bahasan simposium jadi memilih ikut workshop. Tapi ternyata workshop dongeng untuk anak-anak juga tidak menarik buat saya--juga ceramah umum "Sejarah Kalacakra-Tantra". Jadi saya memilih untuk jalan-jalan. Awalnya cuma untuk motret cover buku saya dengan latar Candi Borobudur. Lalu saya maju beberapa langkah lagi supaya terlihat lebih besar. Lalu beberapa langkah lagi--dan tak terasa saya sudah berada di atas. Kadung untuk turun (karena jalur keluar ada di sisi lain jadi mau tak mau saya harus memutar juga), saya malah naik ke puncak, ikut rombongan tur berfoto dan ber-selfie.

Sampai di atas, difotoin sama 2 orang satpam yang ga tega liat saya jalan-jalan sendirian. Makasih ya Pak..

indah juga ternyata foto buku dengan background stupa Candi Borobudur

difotoin oleh Pak Iswanto, satpam canggih yang jadi fotografer pribadi saya selama 15 menit

Jam 4 saya sudah harus kembali ke kompleks Hotel Manohara, jadi saya bergegas turun dan memutari bangunan candi, mengambil snack sore, dan ikut naik mobil yang disediakan panitia menuju Bukit Rhema sekitar 10 menit perjalanan. Bukit ini letaknya di Desa Kembanglimus, dan perjalanan menuju ke sana perlu naik mobil jeep dari lokasi parkiran kalau tidak mau lelah mendaki bukit terjal. Setelah 200 meter, sebuah bangunan berbentuk burung dara raksasa menyambut di balik pepohonan.

Naik ke atas Bukit Rhema naik "angkot" jip

Masih ada waktu sebelum acara dimulai, jadi kami berjalan-jalan menyusuri setiap sudut yang bisa kami telusuri; masuk dari pintu kiri belakang menuju lantai 3 dan 4 dimana mereka membuka kedai Ada Apa Dengan Coffee. Ruang dan tangga di dalam bangunan ini cukup sempit dan tidak beraturan, tapi pemandangan dari balkon lantai atas--di bagian ekor bangunan--sungguh indah terutama menjelang magrib.

Rumah Doa Bukit Rhema

dari lantai 4 balkon bangunan utama Rumah Doa

pemandangan dari balkon paling atas

suasana kedai Ada Apa Dengan Coffee di lantai 3

ada outdoor dan semi indoor, nyaman untuk santai menikmati pemandangan sambil ngopi

sayap Selatan bangunan

mereka bikin stand khusus untuk acara BWCF ini

bagian dalam kapel, bangunan terpisah di kanan jalan menuju Rumah Doa

halaman kapel

lengkap sampai stasi Jalan Salib juga ada di sini

pagelaran musik sitar di penghujung senja

Jam 6 sore acara seni pun dimulai, dengan nyanyian & permainan sitar meditatif oleh Sruti Ayako Nischala dari Jepang, lalu musikalisasi puisi oleh grup Kedung Darma Romansha. Suasana romantis dengan latar langit yang berubah warna hingga gelap menambah keagungan malam itu. Setelah itu venue pindah ke dalam. Beriringan kami masuk ke dalam gedung lewat pintu di sebelah kanan bangunan, yang artinya masuk lewat lantai basement sekaligus menyusuri fasilitas berbagai ruang doa lintas agama--terlihat dari dekorasi tiap ruang dari Islam, Katolik/Kristen, dan Buddha. Saya tidak melihat instrumen doa Hindu dan Konghucu, tapi saya yakin ada; rumah ini terbuka untuk semua agama & kepercayaan. Katanya ada 30 bilik ruang doa pribadi yang memungkinkan orang bersemadhi di dalamnya. Dinding ruang yang kasar menyerupai gua alami mungkin menambah kekhusyukan doa. Saya belum pernah coba sih.
 
musikalisasi puisi yang unik banget dengan keyboard, bass betot (cello), dan violin

Naik ke lantai dasar/utama, terdapat sebuah aula luas dengan langit-langit tinggi yang tampaknya bisa berfungsi untuk berbagai keperluan. Di sana, dalam keheningan kami mengambil tempat duduk menghadap tengah ruangan, dimana enam orang telah mengambil posisi kaku menunggu kami semua duduk untuk memulai pertunjukan. Benar saja, begitu penonton siap, pertunjukan kolaborasi "Harihara" dipentaskan dengan indah dan terkesan sakral oleh Otto Sidharta, Jefriandi Usman, Omar Jusma, Isdaryanto, Piter Slayan, Davit Fitrik, Maria Bernadeth, Yudhi Widdyantoro, dan Allin C. Pontoh. Karena tidak bisa mengabadikannya, saya tidak bisa bercerita tentang pertunjukan ini. Tapi satu hal yang saya bisa bilang hanyalah "indah" dan bahwa saya sangat suka pertunjukan itu.

bagian aula serbaguna di dalam bangunan utama

Pertunjukan seni malam itu dilanjutkan dengan pembacaan sajak-sajak. Beberapa serius, satu yang kocak. Tapi semuanya tentang "Tuhan dan Alam", sesuai dengan tema BWCF tahun ini. Satu lagi pertunjukan yang saya suka adalah Monolog Bhomakawya "Babad Bhoma" oleh Jamaluddin Latif. Ia memerankan beberapa tokoh sekaligus, dengan kostum/properti sesuai dengan karakternya, tentang sejarah penciptaan dunia versinya. Bukan hanya indah menggetarkan, tapi saya sungguh kagum pada kepiawaiannya berganti peran, sembari memasang kostum/prop, sambil bercerita dengan lancar. Sungguh mengagumkan!

pembacaan sajak Basa Sunda yang kocak

Kami tidak sampai selesai menonton semua pertunjukannya, karena cukup letih dan mulai kelaparan. Sebelum acara puncak, kami keluar untuk makan malam yang sudah disediakan panitia, dan juga menikmati malam di Bukit Rhema. Pulangnya, jam 9 kami naik jip lagi untuk kembali ke pelataran parkir, lalu naik bus kembali ke hotel masing-masing. Karena masih ada waktu sampai tengah malam, saya menemani teman-teman bekerja di balkon teras/pinggir kolam renang sampai ngantuk.

lighting-nya bagus juga di malam hari


Hari Ke-2

Subuh-subuh saya bangun dan bergegas ke area candi untuk mengikuti sesi yoga & meditasi, tapi rupanya kami salah tempat dan karena tidak ketemu dengan rombongan, kami kembali ke hotel dan bermeditasi di pendopo. Masih mengantuk dan mulai kelaparan, saya kurang bisa fokus dalam meditasi dan memutuskan untuk mandi dan sarapan saja. Jam 10 pagi kami sudah kembali ke Hotel Manohara dan mengikuti workshop menulis di lontar oleh Hanacaraka Society dari Bali. Lumayan, sekarang skill saya bertambah dalam hal menulis aksara kuno.

Bli Bayu tengah menjelaskan beberapa hal tentang menulis di lontar

alat-alat yang digunakan untuk menulis di lontar

masing-masing kami mendapat sebuah pisau, daun lontar mentah untuk latihan, dan daun lontar matang untuk hasil akhir

bertemu teman baru hari ini: Mbak Widia Djatiningrum

menulis dengan pisau, artinya menggores--dan ini tanpa bantuan pensil!

mewarnai dengan bubuk kemiri yang dibakar

ini tulisannya Mbak Turita Indah

hasil akhirnya, nama masing-masing di atas lontar

keren ya kalau sudah bisa begini...

Lepas workshop kami makan siang, lalu menonton acara Bursa Ide oleh 10 peserta terpilih penulis makalah Call For Paper. Saya sendiri mengirim sebuah makalah, bekerja sama dengan Mba Ita dengan judul "Fenomena Aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Bagi Kalangan Anak Muda Kota Metropolitan". Tapi makalah saya tidak terpilih 10 besar, dan hadir sebagai supporter saja. Bersama Mba Ita ada beberapa penulis yang saya kenali: Ayu Utami (penulis "Bilangan Fu") dan Sinta Ridwan (pendiri aksakun.org).

Bursa Ide, 5 orang pertama: Ayu Utami, Dr. Turita Indah Setyani, moderator, dan 3 pemakalah lain

Sinta Ridwan dan 4 pemakalah lain; yang pegang mic itu moderatornya

Setelah itu saya nggak terlalu ngapa-ngapain selain ngopi & makan snack. Mungkin karena terlalu lelah dan udara terlampau panas jadi malas untuk beraktivitas. Kami hanya menunggu sampai sudah waktunya berangkat ke Lapangan Kenari di pelataran candi. Kami diberi seragam T-shirt biru untuk mengikuti Upacara Puja Api Homa, yang merupakan acara internasional yayasan World True Buddha. Pengikut dari berbagai negara berkumpul di sana untuk menyaksikan upacara pembakaran/kalacakra, ditutup dengan paradaksina (berjalan mengelilingi candi) bersama dengan seluruh peserta BWCF. Dengan demikian, berakhirlah juga acara festival penulis & budaya Borobudur ini.

kami diberi seragam kaus biru untuk acara penutupnya

melihat hiasan kepala biksu-biksu ini, saya cuma ingat film Monkey King

panggung Upacara Puja Homa

Saya sendiri tidak sampai ikut paradaksina meskipun cukup penasaran untuk turut serta. Tapi kami cukup kecapaian dan memilih untuk segera beristirahat. Hujan mengguyur Borobudur dan sekitarnya segera setelah kegiatan paradaksina berakhir, pertanda seluruh rangkaian acara telah rampung dijalankan. Esoknya, kami berangkat kembali ke Yogyakarta untuk naik pesawat dari Bandara Adisucipto. Sungguh menyenangkan mengalami rangkaian acara BWCF ini, meski saya tak yakin saya mau ikut untuk kedua kalinya--kecuali jika diundang, mungkin.


Terima kasih untuk seluruh panitia dan sponsor penyelenggara serta dan partisipan BWCF. Sampai ketemu di acara seputar tulisan/budaya berikutnya!

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah memberi komentar. Mohon kesabarannya menunggu saya baca dan balas komennya ya. Rahayu.

Popular Posts

Follow Me

Subscribe